Tuesday, December 14, 2010

My Taste Exactly

: D

Sebenernya gw males bikin postingan tentang Guinness Arthur's Day yang tempo lalu gw datengin, cuman, apa mau dikata... gw merasa berhutang.

Gw merasa berhutang ama Jason Wade alias vokalisnya Lifehouse. Ahahaha...

Tau ga si, kemaren pas mereka konser di sini, seperti biasa gw ke-ge-er-an sama tingkah laku artis. Byakakakak... Biasa... Dulu pas Bjork, gw sempet ngerasa doi ngeliat atau menatap langsung ke gw, eye contact gitu lho nyet. Ampe maluuu gitu kan rasanya. Panas-panas di pipi. Hahahaha... Pokoknya udah geer abis dah.

Nah, kemaren juga gitu pas Lifehouse.

Jadi ceritanya gini, pas mereka selesai nyanyi lagu terakhir, kalo ga salah yang judulnya "Everything", udah pasca-encore nih, bener-bener terakhir, gw kasih tepuk tangan buat Lifehouse. Tepuk tangan tinggi-tinggi gitu kan, ampe tangan gw di atas kepala gw gituu... Tepuk tangan dengan semangat dan penuh niat dan penuh apresiasi, dan mata gw tertuju pada Jason Wade.

Wah, pokoknya, "I really mean it" dah tepuk tangan gw!

Eeeehhh... Ga taunya... Entah ini cuman perasaan gw doang atau emang aseli, tapi gw ngerasanya si Jason nganggukin palanya gitu brooo... Kayak, nod his head just a little. Dan gw ngerasanya itu anggukan buat gw. Eyyyaaa... kan gw ge-er... :3

Iya, jadi rasanya kayak, seolah-olah bahasa tubuh kita berbicara bahwa kita sama-sama menghargai, sama-sama senang. Gw menghargai Lifehouse karena udah dateng ke Indo, karena udah main bagus, dan Jason menghargai gw karena udah dateng dan berpartisipasi. Yaahh... Timbal balik gitu jadinya... Asik yak? Maksudnya kayak, dihargai artis gitu kan asik yak? Ehehehehe...

Apalagi malem itu Jason Wade nya udah ga ngerti lagi kerennya :3


Picture from : http://writer.wartanews.com/read/Infotainment/
a434b36f-b56c-4e2b-a420-03e1f862c206/Lifehouse-Bius-Jakarta-di-Arthurs-Day

Friday, December 10, 2010

Project Runway SSN1 Lessons Learned

Rule number one, kalo lo masih dalam ajang kompetisi, jangan sok-sokan "Ini gaya gw, ini idealisme gw, yang penting gw udah berkarya sesuai dengan kata hati gw"...

BIG NO. You gotta go with the flow, go with the rules, selama lo masih di kompetisi, lo harus ikutin gimana maunya juri, perhatikan baik-baik "challenge" nya, suck it up, kesampingkan idealisme lo itu. Kalo mau idealis tuh nanti: kalo udah jadi winner, kalo lo udah bisa berdiri sendiri.

Rule number two, selalu perhatikan attitude, perhatikan sikap dan perilaku. Jangan sok, jangan jadi orang nyebelin, karena, siapa juga yang mau baik sama elo, atau ngedukung lo, kalo elo ngga bisa disukain sama siapa-siapa? Lagipula, attitude lo mencerminkan kesiapan lo dan komitmen lo terhadap kompetisi yang lo masukin ini.

Rule number three, jangan pernah, JANGAN PERNAH, berpikir seperti ini: "Gw pengen bertahan di kompetisi ini selama mungkin". Itu pemikiran PURE bukan pemikiran seorang pemenang. It's like, lo udah nyerah duluan belom apa-apa, belom apa-apa pikirannya udah eliminasi dan seolah-olah lo ada di ujung tanduk.

Seharusnya lo mikir, "Gw mau menang di kompetisi ini, gw mau jadi juara satu". Atau sengga-engganya ya, target lo tuh harus, "Gw harus bisa dapet kesempatan untuk show off di fashion week", alias jadi 3 yang terbaik. Tapi tetep, akan lebih baik kalo lo pancang target di kepala lo, optimis, yakin, dan memotivasi diri lo sendiri bahwa lo pantas untuk jadi nomor satu.

Rule number four, lagi-lagi ya... jangan pernah dan jangan pernah even kalo lo adalah orang paling jujur sedunia, jangan pernah sebut atau umbar kelemahan lo. Apalagi kalo lo ngga ditanya secara spesifik, atau ngga dipaksa untuk nyebut kelemahan lo itu.

Tapi, bear in mind, gw ngga mendukung lo untuk berbohong. Kalo emang ditanya pertanyaan yang jawabannya spesifik, dan lo tau it ain't gonna be good, bikin jawaban lo sebelibet mungkin. Kayak politikus atau orang PR gitu lho. Mereka ditanya apa, jawabannya ngga jelas, tapi masih menjawab. A.k.a. sepik.

Udah ah. Lanjut nonton Project Runway...

Thursday, December 9, 2010

Romance Is in the Air

Suatu quote yang gw tangkep dari serial Pushing Daisies.

Olive Snook: Can I ask you a question?
Alfredo Aldarisio: Of course.
Olive Snook: If you loved me...
Alfredo Aldarisio: Yes?
Olive Snook: And we could never, ever, ever touch, wouldn't you eventually get over it and move on, letting someone else have the slightest hope that you might move on to them?
Alfredo Aldarisio: If I loved you?
Olive Snook: Yeah.
Alfredo Aldarisio: Then I would love you in any way I could. And if we could not touch, then I would draw strength from your beauty. And if I went blind, then I would fill my soul with the sound of your voice and the contents of your thoughts, until the last spark of my love for you lit the shabby darkness of my dying mind.

...

Olive Snook: Eh, forget it.


Hahahaha... Harusnya ini romantis, tapi malah jadi kocak. Tapi ya, sayangnya, line sepintar ini diucapkan oleh seorang pemeran figuran. Eeee, sayang aja.

Anyway, ngomong-ngomong soal romantis, gw masih agak kurang nangkep, alias kurang bisa menginterpretasikan quote fenomenal dari film Love Story.

"Love means never having to say you're sorry", the hell does that mean?

Tuesday, December 7, 2010

My Wall Is My Canvas

Suatu hari, gw pengen punya keberanian untuk mengecat dan menggambar dinding di kamar gw dengan cat lukis--atau cat tembok, even--dan menggambar sebebas-bebasnya dan sebesar-besarnya di dinding tersebut.

Oh yeah... Gw akan gambar gedung-gedung, konsep-konsep seperti yang ada di kepala gw.

You know... some people draw concept of their ideal building on sketch book or something, or even a computer software... Tapi gw bukan arsitek, gw bukan seniman, gw bukan desainer, gw ngga punya skill untuk menggambar selayaknya yang mereka lakukan.

Tapi secara gw suka melakukan hal-hal yang kinestetikal dan physical, gw akan gambar konsep gw di dinding. Yup, it's gonna be epic. Dan gw ngga mau pake kuas atau apa, gw mau pake jari tangan gw, gw cocol-cocol langsung ke cat. Terus gw sreeett srett srett...

Cuman... yah, paling gw akan pake sarung tangan atau apa. Bukan karena gw sok ngga mau kotor, tapi lebih karena concern gw sama health issue. Who knows, kalo misalnya cat kena kulit secara langsung bisa ngga bagus untuk kesehatan. Right?

Ngomong-ngomong soal gambar di dinding, coba tebak siapa yang punya keberanian untuk melakukan hal ini terlebih dahulu?

Jawabannya adalah: kakak gw. Yeaah... Dulu banget jauh sebelum kita berdua menginjakkan kaki ke ITB dengan status sebagai mahasiswa, dia ngegambar graffiti di dinding kamar tidurnya. Graffiti segede-gede gaban, warna-warni. Wow. Honestly, if he can do it, I can do it even better! Ahahaha... "Better" dalam artian tertentu tapi ya, secara dia anak arsitektur dan emang lebih berskill aja dalam hal ngegambar. Ahuahauaha...

Tuesday, November 30, 2010

Those Colorful Socks

Dr. Temperance Brennan: "...anthropologically speaking, paramilitaristic organizations tend to constrain individuality. But in any group, no matter how restrictive, the freethinkers, the mavericks, the rebels... with leadership quality... find ways to declare their distinctiveness."

S.A. Seeley Booth: "
You know, I'm a freethinking rogue rebel."


Picture from : BONES TV Series

Friday, November 19, 2010

London or Paris?

Pertanyaan yang simple bukan? Sesimpel pertanyaan 'this or that' di Facebook."Coke or Pepsi?", "Cat or Dog?", "Vanilla or Chocolate?"

Tapi sedikit banyak, pilihan seseorang atas pertanyaan tersebut mencerminkan siapa dirinya. Ya ngga? Ya gw sih sotoy, ga tau kalo elo. Hiahahah...

Nah, balik lagi ke judul postingan ini yang menawarkan dua opsi, London atau Paris.

Berdasarkan pengamatan, kita-kita ini yang ngga tinggal di Eropa pasti banyak banget yang menginginkan Paris. Biasanya cewek-cewek nih, yang tipe-tipe romantis pasti pengen Paris. Akakakakk... Like I said, gw anaknya sotoy.

Gw pribadi ngga pernah benar-benar menginginkan Paris. Dari dulu. Kayak, apaan sih, Eiffel Tower doang. Hiahahah... *Paris Eiffel Tower doang = dangkal*

Tapi emang, gw biasanya ngga punya destinasi impian yang terfokus kek gitu, ya palingan gw punyanya general idea, bahwa gw pengen ke New Zealand misalnya.

Nah, tapi sekarang, gw punya cuy. Gw mau LONDON.

Dan menurut gw London lebih menarik dari Paris. London is my "Paris". Apa sih -_-

Iya lah. Paris tuh mellow romantis gitu. Sedangkan gw lagi ngga butuh mellow romantis. *Apaan banget nih curcol*
 

Kalo London tuh lebih... apa yah. Intelek. Lebih urban. Lebih... nyentrik. Nah, cocok dah tuh ama gw.

Maksud gw, liat aja arsitektur dan monumen-monumen di London ya kan. Bentuknya aneh-aneh. Intriguing banget buat gw.

Dan dari segi culture nya, ooohh... Pengen banget gw ke London, Inggris--tempat musik-musik kesukaan gw lahir :3

Though I'm more of a London person than a Paris person, tapi rasanya gw juga bakalan seneng kalo bisa ke Paris. Yaeyalah.

Seriously, blame Detective Conan for me wanting London like this. Ini semua gara-gara Aoyama Gosho bikin saga super menarik yang settingannya di London. Mungkin kalo doi bikin cerita tentang petualangan Conan di Paris lain lagi keinginan gw. Hihihihi...

Picture from : http://www.blog.lily-anna-rose-design.com