Thursday, January 6, 2011

I know one thing for sure.

For me, a good film is the one that makes me wonder about it; about the film, the actors, the characters, the story, or the makers.

And as soon as the film ended, the first thing I'd be doing is to start Googling them, finding info, investigating, trying to fulfill my curiosity and wonder.

Now that's a sign of a film I like.

Bad disappointing film? Usually I don't give a *peep* afterwards.

Sunday, January 2, 2011

There's something wrong with this joke...

Dulu pas gw kecil, Om gw pernah ceritain gw tentang suatu joke. Well, entah siapa pengarangnya joke ini, tapi kayaknya lo bisa menemukan joke ini di berbagai tempat. Alias, cukup umum terdengar.

TAPI... Menurut gw joke ini salah aja. Sesalah quote "Life is like a box of chocolate, you never know what you're gonna get."

Anyway... Back to the joke itself, begini kira-kira bunyi joke yang Om gw ceritain waktu dulu:

"Kalo kamu boleh ganti otak kamu dengan otak yang baru, otaknya siapa aja, kamu bakal milih otak siapa?"

"Hmm... Einstein. Dia kan ilmuwan, pinter tuh. Udah jelas kegeniusannya."

"Ngapain otak ilmuwan? Otak ilmuwan udah usang, karena keseringan dipake. Mendingan otaknya seniman. Masih seger tuh, otaknya ngga terlalu dipake."

Jaman dulu agak lucu juga joke itu. "Oh iya ya... Seniman memahat, melukis, menggambar. Yang dipake tangannya, matanya... Tapi dia ngga ngitung fisika, rumus kimia, jadi bisa dibilang mereka ngga make otaknya. Otaknya masih seger berarti!"

Tapi kalo dipikir-pikir lagi sekarang, ya salah lah!

Justru seniman itu make otaknya banget. Karena salah satu peranan yang dilakukan oleh otak seniman adalah:

...terletak pada proses interpretasi. Menurut gw, art is all about interpretation, perception, vision.

Kenapa seorang pelukis bisa bikin lukisan yang luar biasa adalah karena karya seni tersebut adalah interpretasi si seniman terhadap apa yang dia lihat, atau dia rasakan, atau bisa saja bahkan--terhadap dunia ini. *Now that is clearly the work of a right side of the brain.*

Hal lainnya, kenapa gw rasa seniman atau "artist" harus lebih dianggap kinerja otaknya adalah karena seniman bisa mengolah inspirasi dia, menuangkannya ke media, kemudian mewujudkannya menjadi hasil karya yang indah. Dan itu bukanlah hal yang mudah, jelas memerlukan brain power yang cukup besar.

All in all, bedanya otak seniman sama otak ilmuwan cuma terletak pada cara penggunaannya aja kok. Kalo soal "keusangan" gw rasa sama. Ilmuwan make otak kiri, seniman make otak kanan. Jadi kalo dipikir-pikir lagi, otak mereka sama-sama "usang". Yang satu usang di kiri, yang satu usang di kanan.

Heck, who made that joke anyway?