Wednesday, July 27, 2011

The ocean forces us to sleep, but not to dream.

I'm gonna make a small, short post about a beach. Or, ocean. Or sea, you know what I'm saying? Okay, here it is. Beach...

Jennifer Lindley in Dawson's Creek once said, "I want you to spend a lot of time at the ocean, because the ocean forces you to dream."

So I believed what she said, because TV show's wisdom is cool. I mean, heck, I love sea anyway, so yeah I thought there's no harm in taking her words in.

But here's the thing, see, when I spent some time at the ocean recently, I tried to use that opportunity to prove whether or not Jen's wisdom was really true and applicable for me.

Well, apparently it wasn't. Spending some time at the ocean did not force me to dream. It made me relax alright, but no inspiration whatsoever coming through my mind. It did not light up or stimulate my brain, and I think my brain also took a break as I took a break and chilled by the beach. *Heeellooo... It was breezy~*

Maybe what Jen missed was this: what forces us to dream isn't spending some time at the ocean, it also isn't the ocean itself, instead, it's the friends we have that forces us to dream. I mean, when Jen was spending time at the ocean, she was always with her friends, right?

I watched Dawson's Creek (up to season four), and I don't think I can recall a scene where Jen was sitting all alone by the beach. All I remember is Jen at the beach, with her friends (you know, the gang; Dawson, Joey, Pacey, Jack).

So the keyword here in forcing one to dream is not the ocean, but rather, it's the friends one has.
It just so happened that this group of friends - the Dawson gang - often hung out and lived near the ocean.

I remember when I was with my friends, despite where we were and where our location was, when I was with my friends, that's when the situation forced me to dream. Hey, you know what Scorpions says, "Take me to the magic of the moment, On a glory night, Where the children of tomorrow share their dreams, With you and me." That's right, it's the dreams we share among us that forces us to dream.


Well, maybe the ocean thingy helps a little in forcing one to dream.

But anyway, I think the ocean's role in our life is that it's best for relaxation, tranquillity, peace, and all sorts of feeling.
It's a good therapy to ease anxiety. Very peaceful, very blissful.

Friday, July 22, 2011

Officially Member of Team Sacrifice

Gw punya hobi baru... Hobinya asik. Komunitasnya juga asik. Orang-orangnya menyenangkan, ramah, dan rame.

I think we are all very passionate about it--about our hobby.

And I think that's why I am loving it.

Uh yeah. Dan gw berpikir untuk menyeriuskan hobi ini. Somehow, someway.

Oh iya, btw, hobinya mengenai audio, dan penggemarnya disebut "audiophile".

Maybe, maybe, I won't really give a shit about all these audio stuffs, if it wasn't because of the fact that I love music. But since I love music, too, well then it's only natural that audio becomes something that matters as well.

Eh... tapi gw mah masih newbie. Levelnya masih yang praktis-praktis portable aja. Nyahahaha...

Anyway, gw baru beli earphone. Sebenernya gw bukan fans earphone, tapi gw pikir gw perlu juga punya satu, karena kadang gw ga bisa bawa-bawa headphone karena bentuknya yang cukup besar.

So, gw putuskan untuk beli earphone, mereknya Blue Ever Blue. Agak random ga sih? Gw juga baru denger merek itu. Gw beli karena kata review, ni earphone bagus--dengan harga yang relatif murah di 20-an US dollar.

Gw belilah, pesen dari US langsung, karena kayaknya belom ada di Indo. Masih jarang yang pake di luar negeri juga. *Ciyahhh... Berasa oke ga tu gua? Fufufu...*

Ya udah, 20-an dollar kan? "I'd give it a shot", gw pikir. Sekalian coba-coba jadi Team Sacrifice, alias "team menumbalkan diri", kalo ternyata barangnya oke, gw bisa recommend ke orang, kalo barangnya ga oke, gw bisa merugi sambil memperingatkan orang untuk ga usah beli tuh barang.

Alright. Wujudnya kayak gini nih, Blue Ever Blue seri 328R alias "The Black":


Picture from : http://blueeverblue.com


Picture from : http://biolinks.webstorepowered.com


Out of the box impression:

-Suaranya jernih.
-Treble ciiss... ciiss... renyah.
-The bass? Are you kidding? The bass is decent!
-Dan untuk suara-suara sintetis macam yang dikeluarkan musik elektronik, earphone ini cukup mumpuni. Ciaelaah... *Udah gw tes pake Apparat.*

And of course it is not a perfect product, so now... the cons:

-Output suara kurang maksimal kalo dicolokin ke laptop. Penilaian gw sementara ini sih begitu, earphone ini lebih cocok dipadukan dengan portable player.
-Dan satu lagi, packaging nya kagak keren. Kayak earphone yang dijual di pinggir stasiun, if you know what I mean.

But, so far gw cukup puas lho, and again, it's only a first impression fresh out of the box. Belom di burn-in. So now... Let's burn this baby!!!

Of course, I do not mean it literally.

Saturday, July 16, 2011

Sekilas "How to Get to Ujung Genteng"

Untuk melengkapi postingan Ujung Genteng gue kemaren, kayaknya makin ideal kalo gw bagi-bagi tips sekalian ya, supaya lo yang kali aja berencana ke sana bisa ambil hikmahnya. Caelah...

Here we go, sekilas "How to Get to Ujung Genteng":

Pertama-tama, untuk ke Ujung Genteng itu butuh waktu kira-kira 9 jam, perjalanan dari Jakarta naik mobil pribadi dan lewat darat. Nah, lu pikir aja dah tuh, 9 jam di jalan, pantat pegel-pegel, jalanan belok-belok dan ancur-ancuran... Worth it ngga tuh kira-kira untuk disamperin? Ya lu putuskan aja sendiri ya.

Kalo rejeki lo lebih, mendingan naik helikopter deh. Di Villa Amanda Ratu udah disediain helipad nya tuh. Hahahaha... *I'm serious*

Kedua, bawa makanan perbekalan yang sebanyak-banyaknya. It's sembilan jam, men. Udah gitu lo bakal ngelewatin gunung, naik gunung, turun gunung, sering kali lo ngga nemu rumah makan atau Alfa Mart untuk beli jajan, secara di kanan kiri lo udah kayak hutan suasananya.

Ketiga, sebaiknya lo pergi berangkat dari Jakarta pagi-pagi, jadi supaya sebelom malem menjelang lo udah nyampe Ujung Genteng. Pas gw kemaren, gw berangkat jam 1 siang, beuh... Jadinya gw musti ngelewatin gunung, jalan ancur-ancuran, dan jurang di sebelah gw sambil gelap-gelapan. Sucks.

Soal perjalanan udah, kemudian soal penginapan. Basically lo punya dua pilihan di sini. Lo mau yang deket pantai apa yang deket Tanah Lot? Kalo Villa Amanda Ratu itu lokasinya nyatu sama Tanah Lot. Jadi tinggal jalan kaki dah nyampe. Tapi ke pantainya lumayan jauh, sejam lah pake mobil.

Sedangkan kalo lo nginep di penginapan deket pantai, modelnya kayak beach house gitu, lokasinya di depan pantai banget. Buat yang mentingin pantai mendingan pilih ini. Cuman kalo lo mau ke Tanah Lot ya lumayan jauh juga.

Dari segi fasilitas sih kurang lebih sama aja. Gw rasa. Banyak pondokan yang nyediain fasilitas kamar atau villa yang oke kok (AC, dapur, living room, etc). Hanya saja kalo Amanda Ratu lebih kayak hotel dengan segala kolam renang dan helipad nya =D

Terakhir, soal pantai. Kan di Ujung Genteng nih pantainya panjang bet ya, jadi mungkin lo bingung, "Mo berenti di mana nih kita? Disitu pantai, disini pantai, 3 kilo lagi juga masih pantai... Gw dah ga sabar mo main di pantai, berenang, liat sunset, foto-foto..."

Saran gw, kunjungilah pantai yang ada pelepasan penyunya. Pantainya bagus, bersih, dan ada event pelepasan penyu pas sore hari. Untuk menuju ke sana, coba untuk menuju lokasi konservasi penyu. Soalnya lokasi konservasi itu nempel sama pantai yang gw maksud tadi. Pokoknya lo tanya aja, "Tempat pelepasan penyu pas sunset tuh dimana?" And you're good to go.

Kira-kira itulah sedikit tips dari gue. As the last piece of my advice, jangan lupa makan seafood ya di sana~ It's YUMMM.

Tuesday, July 12, 2011

Cergam: Tour de Ujung Genteng 2011

Hari Kamis kemaren gw ama keluarga dan sodara-sodara pergi ke Ujung Genteng. Ngapain ke Ujung Genteng? Biasa, liburan anak sekolaan, ya gw yang lulusan sarjana ini sih ikut-ikut aja. Huahahaha...

Anyway, Ujung Genteng adalah daerah yang terkenal akan keindahan alamnya, dan unik, karena eksistensi penyu langkanya, dan suka dibandingin ama Bali, karena pantainya dan kondisinya yang sama-sama memiliki "Tanah Lot".

But still, mungkin lo tetap penasaran, ada apaan sih sebenernya di Ujung Genteng ini? What's so special about it?

Nih ya, yang spesial pertama, pantainya. Pantainya bersih bok... Pasir putih. No garbage. No tai anjing. Pantainya pun sepi. Ngga sepi banget kayak kosong melompong juga sih... Cukup lah, mungkin ada sekitar 100 orang lebih pas gw kesana. Ngga crowded, tapi ngga kosong juga, jadi kalo lo berenang di laut terus kenapa-kenapa masih ada yang mungkin nolongin.




Yang kedua, di pantai ini juga ada acara pelepasan penyu pas sunset. Oooo sunset~ ~


Eciyee ciyeee yang beduaan aja di pinggir pantai~
Ga taunya cowok ama cowok -.-



Iyaaa, jadi lokasi pantai ini tuh tepat di depan area konservasi penyu gitu deh... Jadi telor-telor penyu yang baru netes di konservasi dan berwujud penyu yang masih baby baby langsung dilepas ke laut sore harinya.

Seru juga, gw kebagian megang baby penyu. Tangannya klepak-klepak mulu, kagak sabar pengen berenang. Terus rasanya geli-geli gitu dah pas gua pegang pake dua jari. Baby penyu ini wujudnya berwarna abu-abu kehitaman, dan yang terpenting, badannya masih lunak. Wew... I was afraid I was gonna crush it 'cause I kinda sorta held it too tightly. So, kendorin dikit.

Q: Kenapa musti dilepas sih penyunya? Kan kasian masih baby~

A: Justru dilepas pas masih baby biar dia terbiasa mandiri dari kecil. Cari makan di laut sendiri, survive sendiri. Kalo dilepas pas penyu udah gedean dan selama ini diasuh sama manusia, nanti penyunya jadi manja pas dilepas di laut beneran.

Q: Terus kenapa di lepas pas sore hari sih?

A: Ngga tau.

Anyway, masih tentang pantai, di pantai pelepasan penyu ini pantainya cukup berombak, jadi lumayan seru buat berenang, atau kalo lo punya bodyboard, boleh tuh dibawa buat mainan. Karena FYI, ngga ada ya yang nyediain jasa permainan di pantai ini.

Specialty Ujung Genteng yang ketiga, berikutnya adalah air terjunnya. Gw juga aga bingung, daerah ini ada pantainya, terus ada air terjunnya juga... Bukannya air terjun biasanya di tempat yang rada tinggi ya? Oh well. Anyway, air terjun yang gw kunjungi ini namanya Air Terjun Cikaso.






Jangan tertipu dengan gambarnya, yang seolah-olah sepi dan tak berpenghuni. Sebenernya air terjun ini cukup rame dipake berenang sama pengunjung. Kebetulan aja pas gw ambil gambar ini belom pada nyemplung tuh para pengunjung.

Dan unggulan Ujung Genteng yang keempat, adalah Tanah Lot Amanda Ratu. Lokasi Tanah Lot ini ada di Villa Amanda Ratu, yang kebetulan juga villa tempat gw nginep. Kenapa disebut "Tanah Lot" adalah karena bentukannya yang rada mirip ama Tanah Lot di Bali.

Eh gw ada cerita dikit ni. Jadi ceritanya pas pagi-pagi menjelang sunrise gitu, gw ngincer pemandangan sunrise kan. Pergi lah gw ke luar villa. Pas lagi jalan, gw terima SMS dari ade gw. "Cepetan ke sini, bawa SLR sekalian. Sunrise nya mantep." (kurang lebih gitu isinya).

Gw yang emang udah di jalan jadi panik dong, "Omaygat, sunrise nya udah mulai nih? Gimana kalo gw telat? Ntar sunrise nya keburu gone~". Gw yang sedikit panik pun mulai sedikit berlari, sambil mendengarkan Sigur Ros - Hoppipolla lewat headphone di kepala.




Dan gw pun berlari dan berlari menaiki tanjakan, sambil Sigur Ros memainkan bagian terakhir dari lagu Hoppipolla yang semakin klimaks itu. JENG!! JENG!! JET JEETT JEETTT JETT!!! Berlari dan berlari terus mendaki...




Dan... Sesampainya gw di puncak tanjakan, gw pun dihadapkan pada pemandangan yang mengejutkan. Apa itu???!!

LAUT.




*GASP. GASP.* How... How the hell? Bagaimana ceritanya ada laut di sini?

The most beautiful surprise.

So EPIC. DRAMATIC. CLIMACTIC. Pas banget lagi diiringin Hoppipolla, klimaks. Seklimaks ending Cruel Intentions ketika Kathryn Merteuil ngebuka pintu gereja dan Bitter Sweet Symphony serentak menghentak. Aaah... ^-^

Yaaaa... Jadi itulah yang dinamakan Tanah Lot Amanda Ratu yang berlokasi di dalam Villa Amanda Ratu.
Berikut adalah gambar-gambar yang menunjukkan sisi lain dari Tanah Lot Amanda Ratu:


Serasa di Belanda ngga ni? Hahahaha...
Btw, gw ngasal, gw belom pernah ke Belanda kok.





Enak banget nongkrong di sini... Sambil dengerin musik juga the best. Recommended artists to listen to: Sigur Ros, Chicane, Bryan Adams, Glenn Fredly, and of course, your own personal favorites might suit the mood.

Alright... Enough with the story. Kurang lebih itulah apa-apa saja yang ditawarkan di Ujung Genteng. Sekarang saatnya bernarsis-narsis ria! Muahahaha...


Madagascar!! Yombeeee~~
Gw ga ngerti kenapa, tapi kata ade gw mirip Madagascar?



I just can't do it, you know.
Badan gua terlalu berat untuk loncat di atas pasir!



Where am I? I'm at the villa.


"IF YOU CALL MY NAME, I WILL TURN MY HEAD LIKE THIS!"
Huahahahaha... Udah cocok ngga nih jadi model?


Model-model iklan sendal Akugiles.


Dammit! Cecunguk-cecunguk kecil ini lebih tinggi dari gue!


Okayyy~ This is the end of my holiday report. Wait for the next post, for I will give some useful tips on how to get to Ujung Genteng and enjoy your holiday there. Signing out! Ciao!

Monday, July 4, 2011

A Lodestone Mine


"GET OUTTA THERE!! GET OUTTA THERE!!
TAKE OFF YOUR CLOTHES!"


By then, I already knew I was contaminated.


"DON'T BREATHE IT!"


"WHAT DO YOU MEAN DON'T BREATHE IT?!
HOW AM I SUPPOSED TO LIVE?"


In my dream world, Science, Religion, and Government went side by side.

When someone is contaminated, it means it's their mistake. Normally, you shouldn't get contaminated. If you do, it's either you break something, and then get contaminated, or you go somewhere you don't belong, and then get contaminated.

To make up for this so-called mistake you make, and to redeem yourself, you must make a promise to God. If you want to live, if you want to totally get rid of the contamination, you must make a promise... to God. You promise that you will do this... or that you will do that.

The thing is, you don't make the promise, you don't make the call--The Government did it for you. The Government decide what promise or promises you have got to fulfill or keep. The Government make contact with God.

What the??? Have I been watching too much film? Television? Read too much utopian/dystopian-themed books? Naaah...

Is this my inner hope for a utopian world? Wew, I hope not.