Sunday, November 6, 2011

My Opinion towards --> Coffee Prince

This is my appreciation blog post towards the Korean TV series titled Coffee Prince (2007).




Mari kita skip soal cast maupun sinopsis serial ini, yang begitu-begitu akan gw serahkan pada Wikipedia atau website sejenis yang memberikan fakta dan data. Sedangkan di postingan ini akan dipenuhi dengan opini gw dengan segala kesubjektifitasannya.


Dari episode satu gw nonton Coffee Prince, gw udah suka. Heck, bahkan dari menit pertama serial ini main, gw udah suka. Opening scene dibuka dengan keadaan traffic di suatu kota dimana segerombol kurir pengantar pesanan kebut-kebutan scooter. Sejak saat itu udah kecium baunya, bau-baunya serial ini bakalan asik ditonton dengan teknik pengambilan gambar yang mumpuni.



Opening scene -- ready to rumble.


Layaknya serial atau film yang sukses, serial ini punya deretan cast dengan acting yang memuaskan, dimana emosi karakter-karakter yang dimainkan tersampaikan ke penonton.
Buktinya, walau dibaur dengan kekocakan di sana-sini karena nature nya yang emang ringan dan ber-genre rom-com, gw tetep bisa ngerasain empati atas konflik batin yang dirasakan karakter di serial ini. Berasa banget gitu lho, painful nya. Sampe nyesek dan iba pas nonton ni serial. Berkali-kali gw ngeluh, "Ga sanggup, ga sanggup gw nontonnya" ketika konflik mengambil alih fokus cerita di serial ini.

Dari segi musik atau soundtrack pun serial ini juga keren. Dia ngga pake lagu yang itu-itu aja (metode yang biasa dipake beberapa serial Korea lain), melainkan memakai lagu-lagu yang variatif. Lagu-lagu barat yang populer di kalangan muda mengiringi adegan-adegan di serial ini, seperti lagu milik Blur, Sondre Lerche, Kings of Convenience, Depeche Mode dan lainnya. Wuih... Gaul abis ya kan?

Oiya, berhubung karakter-karakter di serial ini ceritanya umurnya 20-an dan 30-an, jadinya Coffee Prince emang terasa lebih mature dibandingkan serial rom-com Korea lainnya. Jadi gw sih ngga heran kalo pas adegan-adegan romantis dan intimnya terasa lebih "mature" dan passionate. LOLOLOL.

Anyway, walaupun gw udah memuji akting para cast di serial ini, tetep rasanya gw pengen mention lagi secara tersendiri mengenai karakter utama wanita dan aktris pemerannya: Go Eun Chan yang diperankan dengan apik oleh Yoon Eun Hye.


Yoon Eun Hye memerankan karakter cewek tomboy dengan baik, mulai dari gerak-gerik, suara, sampe cara jalan udah pas. Kecuali pas dia lari. As I noticed, pas dia lari larinya kayak cewek. Hahaha...


Choi Han Kyul dan Go Eun Chan (kiri) -- ganteng nyet
Go Eun Chan. Not the obvious "manly" ganteng kayak
Robert Downey Jr., tapi lebih ke "cute" ganteng.



Ini adegan favorit gw pas Go Eun Chan memamerkan
kebiasaannya niup-niup rambut sendiri.
FYI, it's
actually in slow motion, but you can't see that.



It's the hair... It's definitely the hair--the key
that made her boyish look.



Most applauded performance by Yoon Eun Hye: when she
gave piggyback ride to
Gong Yoo (Choi Han Kyul).
Gokil... Seberapa berat tuh? 60 kg ada kali bobot manusia.



Go Eun Chan adalah karakter yang adorable. Buat gw pribadi, karakter tersebut berhasil menularkan positivity dan semangat. Buat artis yang memerankannya, gw ga tau seberapa berarti
Go Eun Chan buat dia, tapi Yoon Eun Hye sampe nangis karena ga mau berpisah sama karakter yang dia perankan ketika shooting untuk serial ini bener-bener selesai. *Apa ini? Gw kayak tabloid, ngegosip dan ngeberitain hal-hal trivial.*

Dan terakhir, apresiasi gw untuk serial ini gw utarakan kepada sang sutradara, Lee Yoon Jung. Gw suka dengan penyutradaraannya. Gw salut sama perhatian yang mereka berikan untuk hal-hal yang mendetail, dan sudut-sudut pengambilan gambarnya yang variatif bikin serial ini jadi menarik dan fresh untuk diikuti.


God... Korsel bener-bener maju ya dalam hal penyutradaraan dan TV production, ga kalah ama serial-serial drama bikinan Amrik. 4.5 out of 5 for Coffee Prince.



RIP Lee Eon -- second on the right (1981 – 2008)


All pictures taken from: Coffee Prince TV series.

Understanding is what keeps us cool about it.

Person A is a pregnant woman,
and the father of the child is Person B.
During her pregnancy, Person A gets so big and large,
but still, in amazement, Person B says...


Person B: "You look great... by the way."

Person A: "What you see is the manifestation of your own virility,
which fills you with a sense of pride and power."



Like, seriously, it breaks my heart. When you analyze everything, you'll realize that it all comes down to nothing. Because then, there will be reasons for everything.

Something like,

"Why did you help this person? Because you could empathize with his or her situation? Or maybe because you had experienced the same thing, and you knew how suck that is. Then... you wanna save people. You wanna be a hero."

Or something like,

A: "You're funny. (I like it.)"

B: "Really? You like me because I'm funny or because you know that I can always entertain you through my jokes? Because it's a save bet that you won't feel bored or sad when you're with me?"

Something like that.

First, you thought it was special, but then you realized the fundamental reason, and oh! It's not so special now, is it?

I don't wanna say humans are selfish, because it's too strong for a word to be labeled to all of us; selfish is a label we use for people who really only think about themselves to extreme. But I guess it really is in our nature to consider ourselves first ahead of others.

Which, in the end it makes me think again. We analyze, we rationalize, we read people's action and words, but then we might not like what we see after we peel off the layers. Aigoo... When we analyze everything, it just ruins it.