Saturday, December 8, 2012

F.A.Q. for a Nobody

Nah, jadi gini, gw bukan siapa-siapa, bukan artis terkenal, selebriti, bukan juga website jualan online, tapi gw sering banget dapet yang namanya FAQ atau Frequently Asked Questions dari orang-orang. Terutama setelah kepindahan gw ke kota Surabaya ini. Terkait dengan apa sih FAQ-nya? Well, I guess people are just curious dengan apa yang gw lakukan--di kota ini.

Mo tau kayak apa FAQ-nya? Langsung aja liat di bawah. Kalimat-kalimat pertanyaan dan jawaban udah gw edit dikit biar enak.

F.A.Q. yang dilontarkan orang-orang Surabaya saat baru ketemu/kenalan:

Pertama ditanya nama. Ya iya lah ya, standar kenalan. Berikutnya...

Q #1: Kamu kuliah apa kerja?
A: Saya udah lulus kuliah Pak/Bu.

Q #2: Oh... Kerja sekarang?
A: Uh... Belom. Belom kerja.

Q #3: Lagi nyari kerja?
A: Ngga juga.

Q #4: Baru lulus kuliah tah?
A: Oh ngga, udah dari 2 tahun yang lalu.

Oke... ini mulai awkward.

And probably, due to my missing Javanese accent, they asked:

Q #5: Kamu aslinya mana?
A: Jakarta.

Q #6: Loh, terus di sini ngapain?
A: Di sini saya kursus Pak/Bu. Kursus Prancis, gitar, tenis...

Dan biasanya di sini mereka udah ngga nanya-nanya lagi, mungkin mereka udah memutuskan bahwa mereka ga paham dengan jalan pikiran gw. Dan ga mungkin kan mereka mendebatkan soal hal tersebut sama gw yang notabene baru mereka kenal?

Tapi ada juga yang melanjutkan pertanyaannya, berusaha menghapus rasa penasaran barangkali.

Q #7: Terus di sini tinggal dimana?
A: Ngekos. Di *** prit prit prit *** (Sensor, sebut nama jalan.)

Q #8: Kenapa di Surabaya? Kenapa ngga Bandung atau Jakarta?
A: Saya udah pernah tinggal di Bandung pas kuliah, jadi sekarang yaa pilih di Surabaya. Lagian ada adek saya di sini. (Okay, bringing up the fact that my brother and I live in the same town is an easy escape answer, because it makes sense for everyone, right?)

Nah, itu sedikit preview tentang apa yang gw alami sehari-hari di sini, di kota yang baru gw tinggali ini. The thing is, gw sebenernya ngeri juga kalo ketemu orang baru karena pasti akan ditanyain seputar hal ini, dan rasanya jawaban gw ngga ada yang memuaskan buat mereka. Ketika gw kasi tau kalo gw di sini kursus-kursus, ga ada yang kayak: "Ohhh iyaaa, iyaa..." Ga ada yang kayak, "get it" gitu.

Well, ada sih, satu atau dua temen baru gw yang menganggap kursus itu pendidikan juga. So, mungkin sama kayak gw, mereka nangkepnya gw di sini ya ga ada bedanya dengan mengejar pendidikan, kurang lebih kayak kuliah lagi. Dan tentunya semua orang paham kan, kalo lo pindah ke suatu kota untuk kuliah?

Anyway, yang gw agak ngga sreg adalah kalo gw di-judge dengan diamnya mereka. Tapi ada juga sih yang gini, dia nanya, interogasi gw terus tapi kayak sambil nyengir shock atau cengar-cengir ga percaya. Yeah, like curious aja gitu. Nah, itu sih asik. Nyengir kan bikin orang ketularan pengen nyengir. Jadi gw nya juga santeee...

You know... maybe this is what gay people feel ketika mereka harus mendapat lirikan shock atau silent judgment ketika orang asing menemukan bahwa dia yang perempuan ternyata punya istri, atau dia yang laki-laki punya suami. Even though keluarga dan orang terdekat mereka mungkin udah ngerti dan udah welcome, tapi mereka harus menghadapi itu semua lagi dengan orang-orang baru. They have to deal with it every now and then, dan mungkin yang gw rasain persis kayak gitu. It makes being in social situations a little bit uncomfortable.

Kemudian, temen-temen gw dan keluarga besar gw yang baru tau kalo gw pindah ke Surabaya juga biasanya nanya seputar hal yang sama: "ngapain" dan "kenapa". None of them seem to get it, karena gw juga jawab seadanya dan sekenanya seperti tanya jawab di atas.

Ada beberapa dari mereka yang paham, tapi itu setelah gw tunjukin motivasi gw yang sesungguhnya dan selengkap-lengkapnya yang telah gw susun di dalam slide PowerPoint. See, the point is, untuk membuat orang mengerti akan tujuan gw emang harus dijelasin dengan panjang lebar dan mendetail.

And you know what? Setelah sama-sama gw tunjukin tuh slide presentasi, ke temen-temen cewek gw dan ke temen-temen cowok gw, the result adalah... usually... guys get it. I don't mean to offend my same-gender mates, tapi emang gw pernah baca kalo bahasa laki-laki adalah bahasa impian dan cita-cita. Jadi, kalo lo ngomongin cita-cita dan impian sama laki-laki, mereka akan lebih, "Ohhh iyaa iyaaa..." Am I right or am I wrong?

Anyway, jadi sekarang gw akan membeber motivasi, tujuan dan kegiatan gw yang sesungguhnya di sini. Gw ini di Surabaya kegiatannya itu kursus. Iya bener, kursus. Macem-macem mulai dari Bahasa Prancis sampe tenis, sampe gitar, dan kemungkinan besar seiring dengan berjalannya waktu akan gw tambah lagi kursusnya.

Kenapa banyak banget kursusnya? Jawaban singkatnya adalah karena interest gw banyak dan gw ga pengen jadi orang yang cuma "sekedar-sekedar tau", "sekedar-sekedar bisa", jack of all trades, jane of all trades. Gw pengen jadi ahli di bidang-bidang tersebut. Dengan kata lain, gw pengen jadi seorang Renaissance Man (Renaissance Woman, in my case), yang punya keahlian di berbagai bidang. Gw sadar betul satu tahun mempelajari berbagai hal itu ga akan cukup untuk jadi ahli. But, one has got to start somewhere, right? Dan gw pikir, untuk memulainya ya kenapa ngga dengan satu tahun ini gw kursus dulu?

Terus satu lagi, selain kursus, gw di sini juga sambil belajar Matematika dan Fisika. Mengulang lagi pelajaran jaman SD, SMP, bahkan SMA supaya gw jadi paham. Soalnya gw bercita-cita untuk menjadi innovator, dan memahami science akan sangat membantu gw untuk ke sana kan?

Gw juga ga ngerti kenapa dulu gw ga peduli sama Fisika atau Math, mungkin karena gw ga nangkep konsepnya, tapi sekarang, at 23, gw ngerasa lebih siap untuk menerima pelajaran tersebut. Gw udah familiar dengan kata-kata tertentu, kata-kata serapan, istilah, ataupun penerapan-penerapan dalam kehidupan sehari-hari. Mungkin buat gw yang dulu, di bangku SD atau SMP, "Apa itu 'dekameter'?" Sebuah kata asing yang cuma perlu dihapal supaya gw bisa mengerjakan ulangan dengan baik. Tapi sekarang, "Oh, dekameter. 'Deka' mungkin sama pengertiannya dengan dekade. Dekade kan sepuluh tahun. Berarti pantesan dekameter itu sepuluh meter."

Maksud gw kayak gitu, at this age gw udah lebih ngerti untuk menerima ilmu tersebut. Dan gw juga pernah baca, kalo kita itu seharusnya mengajarkan anak sesuatu, ketika anak tersebut siap untuk menerima dan mempelajarinya. Mungkin waktu kecil itu gw belom siap untuk menerima Math dan Fisika, tapi sekarang gw merasa udah lebih siap, that's why I'm willing to learn it again.

Dan terakhir, kenapa gw pilih Surabaya, basically adalah karena gw pengen merantau, meninggalkan Jakarta for a while, dan tinggal di suatu tempat yang baru. Dan, semenyenangkan-menyenangkannya tinggal di Bandung, gw udah pernah ngerasain tinggal di sana. Maka pilihan gw jatuh ke Surabaya sebagai kota besar lainnya.

So, that's it then, gw udah bercerita dengan lebih dalam. Here's to all the lost chances to make people understand.

Sunday, December 2, 2012

Questions and Statement around Innovation

Yesterday I told my friend that I aspired to work in an innovation consulting firm, because, as you might have guessed, I am into innovation, and I have always been, ever since I graduated from college two years ago.

And surprisingly, just a short talk with my friend made me reflect on my dream of working in innovation consulting firm such as IDEO or Fahrenheit 212, because she has raised some good questions. Questions such as:

"Is that [IDEO] the best innovation consultancy out there?" (I don't know! And this question kicked me in the gut because it can be alternatively translated as "What do YOU think is the best innovation consultancy out there?" Which made me think that I should've done more research and known which one was considered "the best".)

And then another one, "Have you ever seen their portfolio or their work on innovation?" (Shit shit... No I have not... And why didn't I think of that? Heh. (But I have seen some examples of their work now, so, all is good.))

You see, she's analytical and critical like that. I think she's ready to take a GMAT and get an MBA or something, you know what I mean? Hm, maybe if one day I created something innovative, I'll come to her for her opinion and criticism, but I digress.

Speaking of innovation consulting firms, I've just read one of the articles out there about Fahrenheit 212, a top innovation consultancy in New York, and here's something intriguing which I found: the CEO of that company said that he wanted to innovate for success, and not innovate just for innovation's sake.

Well, honestly, that idea or principle bothers me because I am exactly the opposite of him. I want to innovate for the sake of innovating, or do something creative just for the sake of being creative, because I think that's how we exercise our creativity.

In my definition, "creative"--an adjective we use to describe a person's trait-- means that the person has the tendency to create, or the habit of creating things, and that's why they're called "creat-ive". The word 'create' added with the suffix '-ive'. So, innovation for the sake of innovating is like sharpening the knife, your creative knife, don't you think? And that, my friend, is necessary in my book.