Thursday, June 13, 2013

Taste Everything, Including Humiliation

Belom lama ini gw nyelesain buku yang berjudul Kitchen Confidential, yang ditulis oleh Anthony Bourdain, seorang celebrity chef terkemuka. Bukunya itu semacam memoir, perjalanan dia di dunia masak-memasak dan restaurant industry. Gw suka bukunya. But then again, kayaknya tipe buku memoir gini emang jenis buku yang gw suka.

Ah, no no no. Tapi gw nulis postingan ini bukan untuk ngebahas bukunya atau pun mereview buku tersebut. Melainkan, gw mo share sedikit pelajaran yang gw dapet dari buku tersebut.

Ada 2 yang gw inget. Yang pertama, soal "bring it on" attitude.

Kalo lo udah baca bukunya mungkin lo udah bisa nebak apa yang gw maksud dan apa yang akan gw katakan soal "bring it on" attitude ini. Tapi buat yang belom baca, here it goes.

Jadi pada masa kecilnya, Anthony Bourdain, yang akan gw singkat sebagai AB untuk selanjutnya, bukanlah seorang penggemar makanan. Dia ngga suka nyobain makanan baru dan dia selalu mesen makanan yang 'safe choice' kalo di restoran. Mungkin ini sama seperti kasus gw waktu kecil, diajak ke restoran apapun, nyarinya tetep nasi goreng.

Kembali ke cerita AB. Pada suatu hari, orang tua AB pergi ke suatu restoran fenomenal di Prancis, yang mana karena saking pentingnya, saking BIG EVENT nya buat mereka untuk bisa makan di situ, anak-anak mereka (AB dan sodaranya) ditinggal di mobil. "You stay in the car," mungkin itu kata orang tua AB, dan dengan khidmatnya orang tua AB makan di resto tersebut.

AB kecil penasaran dong. "Kok sampe sebegitunya, mo makan doang?" Baru saat itu dia ngeh bahwa makanan tuh bisa punya power yang sebegitu besar pada manusia. Bahwa makanan tuh bukan sesuatu yang remeh. AB kecil pun jadi semakin penasaran. Akhirnya, dia janji sama diri sendiri, bahwa mulai saat itu apapun yang dihidangkan akan dia makan. Semua jenis makanan, yang absurd-absurd, yang sebelomnya dia ngga pernah makan, bakalan dia makan. "Lo mo nawarin apa? Lo mo ngehidangin apa? Lo mo tantang gw makan apa? Bring it on!", begitu kata AB kurang lebih.

Nah, "bring it on" attitude ini lah yang bisa kita contoh untuk kita aplikasikan di field kita masing-masing. Karena menurut gw, it is just so badass, daring and bold to have this kind of attitude.

Contohnya gini, kalo lo suka musik dan lo berkecimpung di music industry, lo harus punya "bring it on" attitude tersebut. "Ayo sini kasih gw segala jenis musik dan gw akan dengerin. Mau itu keroncong, pop, jazz, hip-hop, k-pop, semua gw terima." Jadi ngga mengeksklusifkan diri pada satu atau hanya beberapa genre. Karena kalo lo ngaku suka musik, you gotta embrace that there exist various genres in music, bahwa hip-hop itu juga musik, bahwa keroncong itu juga musik.

Begitu juga kalo lo suka film misalnya. Lo coba untuk tonton film horror walaupun lo nganggep itu dangkal karena cuma nakut-nakutin misalnya. Coba tonton film drama yang biasanya lo tolak karena it bores the shit out of you. Coba tonton chick flick yang lo remehkan karena plotnya yang predictable.

Semua. Semua. Semua. Karena, mo gimana pun itu tetep film. Itu tetep musik.

Kalo lo ngaku suka travelling, jangan tolak ajakan ke Ternate dengan alasan "Emang di sana ada apaan?" Jangan tolak ajakan ke Kediri karena menurut lo itu ngga elit dan lo mengharapkan diajak ke Maldives instead.

Yah, you get the point lah ya, apa yang gw maksud dengan "bring it on" attitude.

Gw sendiri lagi berusaha untuk menjalani sikap ini. Gw suka olahraga. Dan gw sebenernya ngga suka sama yang namanya running (jogging, marathon, that type of thing)--but hey, it's sport too. Maka gw lakukan itu lari. Karena dalam lari itu terkandung esensi yang gw sukai, yaitu mengolah tubuh gw, menggerakkan raga gw. Olahraga.

Nah, jadi apa manfaatnya "bring it on" attitude ini? Kalo gw sih memperkirakannya, hal ini bisa memperkaya rasa lo. Dan memperkaya pengalaman lo. Dan kalo suatu saat lo mau coba-coba fusion antara ini dan itu, lo udah punya amunisi atau bahan-bahannya di gudang, yaitu di memori lo.

Tentunya sikap ini harus dilakukan dengan batas. Gw bilang "semua, semua, semua", tapi kalo ada pakem-pakem yang ngga bisa dilanggar ya jangan.

Kemudian yang kedua, yang gw serap dari buku Kitchen Confidential ini adalah soal humiliation. Sesuatu yang mempermalukan. AB pernah dipermalukan di depan umum ketika dia masih sangat muda dan naif, tapi itu juga gara-gara kesalahan dia sendiri sih. Akibatnya, di kemudian hari pas ada orang yang coba-coba mempermalukan dia di depan umum lagi, itu ngga mempan karena AB pernah dipermalukan lebih buruk.

Jadi, lo harus setidaknya pernah ngerasain mempermalukan diri sendiri di depan umum, atau dipermalukan orang lain di depan umum. Karena ini akan membentuk kekebalan mental lo, semacam immune system untuk ego. Jadi kali berikutnya lo dipermalukan di depan umum, perasaan tersebut ngga akan semengejutkan itu, karena udah pernah kan? Jadi lo ngga nangis deh. Ngga ciut. Ngga jiper. Ngga panas.

Begitulah kira-kira pelajaran yang gw tangkep dari buku Kitchen Confidential.

What's that you say...? You wanna hear MY humiliating story?

Hmmm... Okay. So there was this dude at college, he liked to play with his chair, like, leaning it backwards 'til it's about to fall. One day, he almost fell off his chair backwards, terribly, 'cause he leaned a bit too much. So he desperately reached out his hand for something to hold on to. And d'you know what he managed to grab? He held on to my boob.

OK. Thanks. Bye.