Wednesday, December 31, 2014

Special Report: Tennis Adventure in Singapore

Semenjak mendengar kabar bahwa WTA akan mengadakan turnamen akhir tahunnya di Singapore, sekian banyak fans tenis di Asia Tenggara termasuk gw pun bersuka cita. Kami semua menunggu-nunggu saat itu datang: Oktober 2014. Pertama kalinya WTA akan menggelar Year-End Championship, turnamen yang sangat prestisius setelah Grand Slam, di Asia Tenggara.

Ini artinya 8 pemain terbaik tahun ini akan bermain di Singapore, dan berdasarkan track record sebelumnya, kita bisa berharap bintang lapangan seperti Serena Williams dan Maria Sharapova akan berada di sana.

Benar saja, Oktober pun datang dan sejenak kemudian 8 nama pemain tersebut diumumkan, dengan Serena dan Sharapova menjadi orang pertama dan kedua yang lolos kualifikasi. Gw yang udah beli tiket pertandingan dan pesawat dari jauh-jauh hari ngga sabar untuk angkat kaki ke airport.

Kamis, 23 Oktober pagi hari. Berangkat lah gw ke airport dan tiba di Singapore jam 1 siang. Karena udah beli tiket untuk pertandingan siang itu, gw pun langsung menuju lokasi perhelatan akbar yaitu Singapore Indoor Stadium. Keluar dari stasiun MRT, ternyata gw langsung sampe ke kompleks olahraganya. Di pintu masuk gw disambut dekorasi WTA dengan stand-stand dan booth-booth yang beragam.
 




Walaupun tertarik untuk lihat-lihat, tapi gw udah telat. Jadi gw langsung masuk ke Stadium untuk nonton pertandingan pertama hari itu: Wozniacki vs Radwanska. The latter one is my fave. Dari luar Stadium udah kedengeran suara penonton bersorak dan bertepuk tangan. Wah, kayaknya seru. Gw pun masuk dan untuk pertama kalinya gw melihat real, live, elite, world class tennis players playing a match. Cool. Unreal. Whoa. Is that really Radwanska? Hehehe... That is Radwanska. She's so thin.


Dari seat gw di lantai 3, pertandingan terlihat impressive. Satu hal yang gw ketahui setelah nonton tenis secara langsung adalah bahwa semakin jauh kita berada, semakin impressive terlihatnya pertandingan. Padahal mah ngga begitu-begitu amat. Kalo mau ngerasain sensasi yang sebenarnya, nonton dari dekat lebih baik.

Pada akhirnya, pertandingan antara Wozniacki dan Radwanska berakhir dalam 2 set saja dengan Wozniacki sebagai pemenang. Padahal gw mengharapkan pertandingan yang lebih kompetitif mengingat mereka memiliki gaya permainan yang relatif sama. Tapi apa daya, Wozniacki mempunyai pukulan-pukulan yang lebih kuat, and in modern tennis, power is necessary.

Sebenarnya dari sekelumit dan sekelebat aksi yang terjadi di lapangan, gw melihat bahwa Radwanska punya potensi lebih: dia bisa mukul lebih kuat, tapi hasilnya agak tidak terkontrol dan keluar. And I guess she just doesn't like to make errors like that, so she goes with controlled shots which consequently turns out to be weaker too.

Pertandingan selanjutnya yang gw liat adalah antara Sharapova dan Kvitova. I really want to be excited because it's the freaking tennis star Sharapova playing, but what can I say, I just can't focus on watching the match. Mungkin karena udah capek dari pertandingan sebelumnya, mungkin juga karena basically pertandingan antara mereka berdua adalah pertandingan antara sesama powerhouse--hasilnya adalah point-point yang berakhir dengan cepat tanpa adanya rally panjang. Not exactly my cup of tea.


 Sharapova vs Kvitova--The stadium's atmosphere on a Thursday noon


Di pertandingan ini Sharapova tidak memberikan perlawanan yang berarti hingga di set kedua. Anyway, despite her effort, Petra Kvitova ends up as the winner of this match in a two rather quick sets. Dengan berakhirnya pertandingan ini, berakhir pula jatah nonton gw untuk hari ini. 

Di jalan pulang, gw ngeliat ada papan yang menginfokan jadwal latihan para pemain. Oh, cool. Saat ini Serena dan Simona seharusnya lagi latihan. Gw pun menuju practice court yang letaknya 10 menit jalan kaki dari Stadium.

Sampai di dalam arena, pemain pertama yang tertangkap mata gw adalah... Simona Halep! Wow... She's like SO white. Like a milky porcelain white. Haha... Anyway, Simona nya ntar dulu. Gw menuju practice court yang dipake tennis legend Serena Williams. Oh there she is...






Di sesi latihan ini kita bisa lihat Serena dan pemain lainnya dari jarak super dekat, mungkin 3-5 meter.  

So this is how elite players practice and fine-tune their skills, huh?

Partner latihan Serena adalah cowok dengan badan super fit. Huge, wide upper body. Nama panggilannya Big Sascha, sangat representatif. Pantesan Serena tetap berada di puncak. Partner latihannya bukan hanya cowok, tapi cowok berbadan super besar dengan pukulan-pukulan yang keras.

Selesai latihan, fans Serena udah nunggu dan ngerubun di pembatas untuk minta tanda tangan. Yang beruntung dapet, yang ngga ya coba lagi. Gw ngga ikut-ikutan ngerubun karena gw belom ada keinginan untuk minta tanda tangan. Plus, gw ngga punya barang buat ditandatanganin dan spidol. Lanjut dah gw ke court sebelah, dimana Simona berada.




Sepanjang turnamen gw ngga berkesempatan liat Simona bertanding, cuma liat dia pas latihan. Dan dari apa yang gw liat, ketika latihan Simona tuh bener-bener oke banget. Gesit, berenergi, dan on fire. It's really cool to see her practice. I like seeing her movement, forehand motion, and her shots. Bolanya Simona terarah ke pojok dan menusuk ke dalam. By the way, Simona seemed to really enjoy her practice there; she often flashed a smile.






Dengan berakhirnya sesi latihan Simona, berakhir juga petualangan gw hari ini di kompleks olahraga Singapore yang megah dan cool. Gw pun menuju hostel untuk beristirahat karena hari mulai gelap dan gw sendirian--temen-temen gw baru akan datang keesokan hari. 

Setelah berjalan cukup lama dari stasiun MRT, nyampe juga gw di hostel tanpa nyasar. Namanya Green Kiwi. Abis check in, gw langsung digiring ke kamar pesenan gw yang all-female dan menemukan kamarnya gelap sekali. Ternyata orang-orang lagi pada keluar dan semua lampu di kamar itu dimatiin. Setelah lampu dinyalain dan beberapa menit adaptasi, ternyata kamarnya cukup comfy.


My personal space with personal bed lamp. 
Room is both cold and comfy.
 

Tiba saatnya gw ke kamar mandi. Holy crap on a cracker, they separate the shower and the toilet. Jadi abis poop gw ngga tau deh nih cuman disedian tisu gini. Ngga ada semprotan WC, ngga ada built-in sprayer juga di klosetnya. So, yeah, not gonna tell you what I did to solve that problem, yang jelas gw pindah ke shower untuk mandi dan bersih-bersih. Agak sedikit shock juga sih dengan budayanya, fortunately I got used to it pretty quick.

Now the morning has come and I am so ready for breakfast. Semalem gw gagal makan malem karena sebagai newbie di Singapore gw ngga tau spot-spot makanan halal. Untungnya kali ini, breakfast udah termasuk fasilitas hostel, jadi ngga usah pusing cari makan lagi.

 


Sarapan di sini berupa roti, selai dan buah-buahan yang bisa gw konsumsi kapan aja, tersedia 24 jam (except maybe the fruits). Dan berhubung gw anaknya pengen coba semua, gw ambil segala rupa selai dan menggotong makanan ke roof top yang konon katanya merupakan salah satu fasilitas di hostel ini.




Ah, ternyata benar hostel ini ada roof top nya. Tempatnya enak buat nongkrong-nongkrong dan hal terbaik adalah pemandangannya: a street view that shows today's traffic, which is a very contrasting sight while you chill, savoring your breakfast away. Hmmm... We do love our vacation.

Melanjutkan hari dengan berjalan kaki di siang bolong yang cukup terik, gw pun menuju Stadium untuk kembali menonton pertandingan. Sesampainya di venue, gw langsung masuk ke dalam dan mencari jatah duduk gw. I'm excited! This is a Sharapova vs Radwanska match. A tennis sensation versus my fave! Speaking of Sharapova, barusan di luar stadium ada stand yang ngejual Sugarpova--ragam permen yang merupakan produk bisnis Sharapova--tapi gw lewati begitu aja karena udah ngga sabar untuk duduk di kursi yang kali ini berada di kelas Premium. I paid good money for this. Lokasinya di section paling depan. Jarak sama pemain mungkin cuma 10 meter. It's gonna be great! 

Tapi tunggu dulu, what is this thing blocking my view? Ternyata di depan gw duduk ibu-ibu tinggi dengan leher jenjang dan kepala yang, well, ngga kecil. Crap. Setengah porsi lapangan tenis langsung keblok. Oh God... I paid good money for this? Well, so much for premium seat. VIP seat. Special seat. Or whatever the shit. Gw coba untuk mengakali situasi dengan menaruh tas di atas kursi--hal ini akan meninggikan kedudukan gw. Lumayan deh, tinggal seperempat court yang ketutup. Itu juga kalo gw menjulurkan leher. The joy of watching a match is ruined already. At least that's what I thought.

Sebelum gw berlama-lama cemberut dalam hati, MC mengumumkan sekarang saatnya pemain memasuki lapangan. Yeay... Yang pertama, Aga Radwanska muncul. Aaaa my fave!!! Gw tau my fave head-to-head nya buruk sama Maria Sharapova, dan my fave lagi ngga di puncak performanya, tapi tetep aja gw dukung dia. Because, my fave is my fave.


My fave--playing catch towel with the ball boy


Setelah Aga, giliran Maria Sharapova alias Masha memasuki lapangan.


Somehow, this is the best picture of Masha I have to show


Walaupun foto gw menunjukkan kondisi lapangan yang terang benderang, tapi sebenernya ketika pemain memasuki lapangan mereka menggelapkan pencahayaan. Hawanya menjadi serba ungu dan suasana bertambah meriah dengan kembang api yang diledakkan.

Pertandingan pertama hari itu pun dimulai, pertandingan yang bakal jadi pertandingan paling menguras energi yang pernah gw rasakan. Set pertama jatuh ke tangan Sharapova dengan skor yang cukup kompetitif di 7-5. Di set kedua Sharapova semakin menggila dan melibas Radwanska. Mungkin karena hari ini adalah pertandingan terakhir Masha dan dia merasa harus menang setelah di kedua pertandingan sebelumnya menanggung kekalahan. Skor pun mendekati akhir: 4-0. Ah, this sucks. Masak akan berakhir dalam, what, 1 jam 40 menit? Gak seru. Gw pun berharap bahwa Aga somehow bisa bikin pertandingan ini kompetitif. 

Ternyata harapan gw terkabul. Ngga lama kemudian ada satu point dimana Radwanska memvoli pukulannya Sharapova ke pojokan with such conviction, and, I don't know, I guess you just feel the determination there. That was a big, turning point for her. And in that moment, Aga has woken up. 

Sejenak kemudian skor 4-0 berubah menjadi 4-1. Bagel avoided. Sedikit benih harapan ditaburkan Radwanska di lapangan. Sharapova pun ngga mau kalah dan semakin melaju meninggalkan Radwanska di kedudukan 5-1. Kalo game berikutnya dimenangkan Sharapova, artinya dia keluar sebagai pemenang. Di saat ini gw udah stress mikirin apakah Aga bisa bertahan. 

Entah karena mental bertahan atau karena mental berjuang, Aga pun berhasil menyelamatkan match point dua kali dan merubah kedudukan menjadi 5-2. Phew... Now it's breadstick avoided. Aga yang meloloskan dirinya dari match point seketika mendapat dukungan penonton. Teriakan nama Maria yang datang dari penonton sekarang berbaur dengan teriakan yang berbunyi "Aga", "Agnieszka", maupun "Radwanska". Yes! I guess we love the underdog story. And Aga, girl, you just created draaaamaaa.

Terlepas dari euforia penonton, perjuangan masih panjang buat Radwanska. Dia harus meraih tiga game berturut-turut untuk menyamai skor Sharapova. Kalo satu game aja dimenangkan Sharapova, pertandingan berakhir. In other words, it ain't gonna be easy. Di saat ini pertandingan sudah menjadi intense. Sharapova berusaha memfokuskan dirinya dengan memunggungi lapangan dan menghadap ke penonton. Menghadap ke gw. Ahahaha... Yes, while you're at it, why don't you climb up here, Masha? We're sure to turn into screaming fangirls and boys. Eh, but I digress.

Dengan usaha maksimal, Radwanska pun memenangkan poin demi poin dan mendekati skor Sharapova. The audience is now ecstatic. Gw yang melihat harapan semakin terang benderang mulai ikutan teriak-teriak. "Come on Aga!", "Go Aga!" Yes, I hope she heard it. She was so close. After all, it's a premium seat, yo. 

Total keseluruhan ada 3 match point yang telah Aga selamatkan. Skor sekarang 5-4, and basically, what we hear from the crowd is now Aga's name mostly. Anyway, it's still a long way to go. At this point gw udah capek banget nontonnya. Fuck... Lemes. I think I'm gonna lie here on the floor. Efek samping dari teriak-teriak, tepok-tepok, ngarep dan khawatir.

Pada akhirnya, Aga berhasil menggiring set kedua ini ke posisi tiebreak. Dan dengan mad defensive skill di sana-sini, set kedua dimenangkan oleh Aga dan menarik Sharapova ke set ketiga. Yeah!!! Satu stadion meledak merayakan keberhasilan Aga. That was epic. Masha, girl, here's a message from Aga: straight set win denied. Huahaha... I'm sorry. I like Masha just fine. I actually think she's adorable with her on court antics. Kalo dia bikin unforced error, dia akan membuat gerakan pantomim dengan tangan kanannya dan melakukan forehand swing, seolah-olah berusaha mengoreksi diri sendiri. That's cute.

Set ketiga pun dimulai setelah break yang cukup lama karena, let's face it, the audience is probably peeing their bladder out after that long, intense set. Sayangnya di set ketiga ini Aga ngga memberikan perlawanan yang berarti buat Masha. Honestly di set ketiga Radwanska terlihat udah ngga kuat lari dari pojok ke pojok. So, the set was over pretty quickly at 6-2, dan Masha pun mendapatkan kemenangannya yang tertunda. Congrats, Masha. Standing ovation for Aga anyway. I think on her way out she looked up and glanced at me. Hahahah... Oh my God, I cannot believe the fangirl in me. Anyway, total durasi pertandingan ini: 3 jam 11 menit. Nice. Money well spent.

Setelah pertandingan yang melelahkan dan sangat intense, tiba saatnya pertandingan kedua antara Caroline Wozniacki dan Petra Kvitova. Seperti biasa, pada match kedua gw udah kehilangan konsentrasi, energi, maupun ketertarikan untuk menonton pertandingan secara back-to-back. Tapi berhubung tiket berlaku untuk dua pertandingan, kenapa ngga, akhirnya ditonton juga. 

Harus diakui bahwa di sepanjang turnamen Caroline terlihat sedang berada di puncak performanya, dan pertandingan ini memperkuat dugaan tersebut dengan dominasinya atas Kvitova. Caroline terlihat fokus, fit dan berenergi. Walaupun ngga sekeras Kvitova yang memang seorang power hitter, tapi pukulan Caroline cukup keras dan solid untuk menyulitkan lawannya. Pertandingan pun berakhir dengan skor meyakinkan 6-2 6-3 untuk Caroline.

Usai pertandingan, gw pun menemui temen gw dari komunitas MHI tennis. Rencananya kami bersembilan dari MHI akan nonton bareng di Singapore, tapi saat ini baru satu temen gw yang muncul. Kami pun memutuskan untuk menjelajahi area Fan Zone sebelum menuju hostel. 

Setelah muter sana-sini, gw sama temen gw hinggap di stand yang menawarkan foto bareng pemain-pemain WTA Finals. Melihat contoh yang dilakukan orang-orang, kami jadi tertarik untuk menjajal, apalagi ini ngga bayar. 

Konsep fotonya begini: kita diminta untuk berdiri di depan layar hijau, kemudian disuruh gaya yang keren seperti pemain-pemain WTA, with the fist pumps and the come ons, setelah itu kita akan disempilin di tengah-tengah pemain WTA dengan teknik Photoshop. Hasilnya kurang lebih kayak gini:




Heheheh... Pretty cool, huh? This makes me feel like I'm Top 5.

Puas mengitari Fan Zone, kami memutuskan cukup sudah untuk hari ini dan menuju hostel untuk check in. Kali ini hostel tempat gw bermalam bernama River City Inn dan berlokasi di Hong Kong Street. 


Bukan... Bukan yang itu bangunannya.
 (Photo by Agnis Virtinova)


Hostel kami terletak di lantai 4 sebuah bangunan tanpa lift. Lumayan buat latihan cardio sementara kami naik turun tangga. 

Check in di River City, awalnya gw agak ngga suka sama suasananya karena resepsionisnya kok kayak kurang ramah. Tapi lama-lama feel nya dapet juga. Ternyata Mbak Resepsionis jadi lebih ramah setelah gw menanyakan pertanyaan tipikal turis seperti makan dimana. 

Lepas makan malam, kami menunggu kedatangan teman-teman yang lain sambil menyeduh minuman. Enaknya di sini, mereka nyediain beragam minuman kayak teh, kopi, maupun Milo untuk kita seduh sendiri. Sambil menunggu teman-teman, kami duduk di meja tengah dan bahasan seputar pertandingan hari ini dan esok hari menjadi topik hangat di malam itu. 

Satu per satu teman kami pun berdatangan, sampe akhirnya yang paling terakhir muncul pas tengah malem. Nunggu selama ini ngga terasa karena kesan homey yang ditawarkan hostel ini menghangatkan suasana. Obrolan pun berlanjut sampai larut hingga akhirnya kami memutuskan untuk beristirahat.

Pagi hari, setelah melahap sarapan dan mandi, gw dan teman-teman berangkat lagi ke Stadium. Ini adalah hari terakhir gw di Singapore, sebelum nantinya kembali ke Jakarta di malam hari. Gw yang ngga pegang tiket hari ini berencana untuk menghabiskan waktu dengan menonton latihan para pemain sambil berburu tanda tangan. Bola tenis super besar yang gw beli kemarin udah gw siapkan untuk ditandatangani pemain-pemain elit WTA. Setelahnya, gw berencana untuk jalan-jalan santai di Orchard, dan, sebagai penikmat film, nyobain bioskop di negeri orang.

Sesampainya di kompleks olahraga, gw langsung mencari tahu jadwal latihan hari ini. Terpampang di papan adalah nama Serena, Caro, dan Aga--iya, yang tertulis adalah panggilan akrab mereka. Jadwal latihan hari ini sangat menggiurkan, kesempatan gw untuk lihat my fave latihan.

Tapi sejenak kemudian, pandangan gw melesat ke jadwal pertandingan hari ini: partai semifinal antara Serena vs Caroline, siang hari. Temen-temen gw yang pegang tiket malam berharap Serena main di malam hari, tapi ternyata malah main siang. Kebimbangan pun mulai menghinggapi kami: nonton match siang atau ngga.


First things first--kami ngecek dulu apakah tiket untuk Serena vs Caro masih tersisa. Ternyata masih, setelah itu temen-temen gw cukup cepat ambil keputusan untuk menyikat seat yang ada. Lain halnya dengan gw... yang super duper dilema dalam situasi ini. Di satu sisi, nonton rame-rame kayaknya seru. Di sisi lain, gw takut ketinggalan pesawat karena pertandingan bisa berlangsung sampe sore. And whatever happened to the original plan to walk on Orchard, go to the cinema, and see the players practice?


Decisions, decisions...
(Photo by Eko Retnani)


Akhirnya, karena ngga mau ngelewatin keseruan bareng temen-temen, gw pun beli tiket pertandingan siang. Peer pressure, man. Takluk juga gw. Walaupun seneng bisa liat Serena "the legend" main, tapi berat rasanya melepas itinerary yang udah dinanti-nanti. Belom tau aja gw kalo ini akan menjadi keputusan yang brilian.

Sambil menunggu mulainya pertandingan, kami menuju Foodfare untuk makan siang. Sementara temen-temen gw asik menyantap makanan, gw yang ambisius memutuskan untuk skip makan siang dan menuju practice court untuk berburu tanda tangan.

Di practice court, gw melihat Serena udah mulai berlatih, sedangkan lapangan sebelah untuk Caroline masih kosong tak bertuan. Baru beberapa saat kemudian Caroline dan timnya terlihat muncul dari pojokan. Caroline pun berjalan memasuki lapangan dengan senyum ramah di wajahnya. Gimana dia tersenyum padahal sebentar lagi bertanding untuk sebuah tempat di final bagi gw masih menjadi misteri.



Caroline dan ayah sekaligus pelatih


Fakta bahwa Serena dan Caroline ada di sini untuk latihan meskipun beberapa jam lagi mereka harus tampil di pertandingan membuat gw terkagum-kagum. It's like you get to see the behind the scenes, the final rehearsal, right before you see the show. That makes the whole thing feel special.

Pas lagi asik mengamati Caroline latihan, tiba-tiba gw mendeteksi adanya gerakan-gerakan aneh dari fans di court sebelah. Rupanya mereka bereaksi atas Serena yang tampak meninggalkan lapangan. Dengan sigap, gw pun mendekati gerombolan fans sambil membawa bola yang siap digores petenis legendaris abad ini. Tapi apa daya, kerumunan fans terlalu banyak dan gw berada di lapisan kesekian. Serena pun melangkah semakin jauh dan percobaan pertama gw gagal total. 

Namun tampaknya ada satu fan yang super duper beruntung hari itu. Entah dia berhasil mendapatkan tanda tangan Serena di raketnya, atau Serena baru saja memberikan raket kepadanya. Yang jelas dia menggotong-gotong raket Wilson, tanpa bungkus, sambil tersenyum sumringah.

Siang itu ternyata Caroline cuma latihan sebentar. Ngga lama setelah Serena meninggalkan lapangan, Caroline juga mengakhiri latihannya. Ia pun berjalan pergi bersiap menghadapi tugas di depan mata. Tetapi sebelum meninggalkan lapangan seutuhnya, Caroline menyempatkan diri untuk menyapa fans yang dari tadi menunggu dengan penuh harap. Gw salah satu dari fans tersebut. Kali ini gw mendapatkan spot yang bagus buat minta tanda tangan: lapisan ketiga di belakang anak-anak kecil yang ditemani orang tua mereka.

And here she comes... Caroline cuma berjarak satu meter di depan gw. Caroline pun mulai memberikan tanda tangan dan berinteraksi dengan salah satu anak kecil. Gw yang ngga mau kalah dan masih ngarep plus ngga tau malu mulai menjulurkan bola besar di tangan gw. "Caroline, this one Caroline," pinta gw pada Caroline untuk mengukuhkan kenangan WTA Finals yang gw datangi jauh-jauh dari Jakarta.

Berkali-kali gw berkata demikian, tapi Caroline tidak menggubris. "Caroline, this one Caroline." Khawatir suara gw terlalu pelan, kali ini dengan volume yang lebih keras. Tapi tetep ngga digubris. Lama-kelamaan akhirnya Caroline semakin jauh dan pergi meninggalkan arena. Kesempatan emas gw melayang, gagal membuahkan hasil.

Gw pun bertanya-tanya, kenapa gw dikacangin sama Caroline. Apa karena gw dianggap terlalu tua, bersaing sama anak-anak kecil untuk sebuah tanda tangan? Dugaan gw pada saat itu sih demikian. Nantinya gw tau kalo mungkin permintaan gw diabaikan karena gw dianggap kurang sopan.
 

Jadi seperti yang gw ketahui kemudian dari membaca buku biografi Rafael Nadal, dia bercerita kalo fans tuh seharusnya bilang "please" ketika minta tanda tangan atau foto bareng. Karena kalo ngga bilang "please", dia menganggapnya ngga sopan. So, yeah, mungkin gw dianggap ngga sopan sama Caroline... Sedih juga. A rookie tennis fan mistake.

Kelar nonton pemain berlatih, ternyata masih ada sisa waktu sebelum pertandingan semifinal dimulai. Gw pun memutuskan untuk mengambil barang-barang di hostel supaya selepas pertandingan bisa langsung ke airport.

Sekembalinya ke Stadium, ternyata pertandingan antara Serena kontra Caroline udah dimulai sejak 15 menit yang lalu.


Di luar dugaan gw, ternyata Caroline memimpin set pertama dengan skor yang meyakinkan. Diliat dari skor dan cepatnya pertandingan berjalan, Caroline tampak mendominasi pertandingan lawan pemain nomor satu dunia ini.
 

But why is that? I know Caroline's been playing great the whole tournament, but one would think the legendary Serena Williams would be able to at least put up a fight.

Kalo kata orang sih, permukaan lapangan di turnamen ini amat memperlambat laju bola. Dan big-hitter seperti Serena yang mengandalkan power bak kehilangan keuntungan pada permukaan ini. Di sisi lain, defensive player seperti Caroline mendapat keuntungan dari ekstra waktu yang mereka dapat guna mengejar dan mengembalikan bola dengan lebih baik. Bisa jadi itu mempengaruhi jalannya pertandingan.

Gw yang hanya melihat ujung dari set pertama ini punya teori lain, yaitu Serena bermain dengan tidak sabar. Dalam artian, dia melepas seluruh powernya dalam setiap pukulan. Hasilnya ya seringkali out atau net. Emang yang namanya power gede ngontrolnya agak susah. Padahal kalo Serena menukar 20% kekuatannya dengan kontrol, bisa kali tuh bola-bolanya masuk ke dalam garis.

Tertinggal di belakang Caroline pada set pertama, Serena tetap menggunakan strategi yang sama: ball bashing--rilis seluruh tenaga dalam pukulannya. Dengan percobaan yang sama, hasil yang didapat pun sama.

Serena yang frustrasi tiba-tiba mengejutkan kami semua dengan menghantamkan raketnya berkali-kali ke lapangan. 

Bruak! Bruak! Bruak! Bruak! 

Dengan kecepatan ayun yang luar biasa dan power yang besar, kontan raketnya berubah menjadi bangkai reyot peyot. Penonton pun menanggapi kejadian ini dengan heboh. Hiburan kelas satu.

Wah... Jadi ini yang namanya banting raket di lapangan oleh elite athlete. Gw berkesempatan menyaksikan drama tenis secara langsung. Cool. I mean, not in a "follow this" sort of way, but damn that was entertaining.


Setelah puas melampiaskan emosi, Serena pun berjalan kalem menuju kursi dan mengganti raket dengan yang baru. 


 (Photo by Agnis Virtinova)


Tebakan gw sih Serena sekalian ngeganti raketnya dengan tensi senar yang lebih tinggi untuk kontrol yang lebih baik. Benar atau salah, yang jelas posisi skor Serena udah tertinggal jauh, dan sebelum kita bisa menilai performa raket barunya, tau-tau set pertama udah berakhir di tangan Caroline dengan skor 6-2.

Set kedua pun dimulai. Gw bilang ke temen gw kalo gw pengen pertandingan berlangsung sampe set ketiga biar seru, tapi durasinya jangan lama-lama soalnya ga mau ketinggalan pesawat. Ahuahuah...


Di set kedua ini, Serena udah mulai menemukan groove nya. Pukulan-pukulan dia udah masuk ke dalam garis, dan nampak dari seat gw di lantai paling atas (that means paling murah) kalo kekuatannya udah dikurangin. Oke, bagus.

Karena kepala dan badan Serena udah masuk ke dalam pertandingan ini, situasi saat ini berbalik 180 derajat. Set kedua didominasi oleh Serena yang sebelumnya dibantai Caroline. Yah, begitulah. Kalo lo juara Grand Slam 18 kali dan bolak-balik berstatus sebagai petenis nomor satu dunia, it is within the realm of possibility to turn the match around. 

Dalam setengah jam saja, set kedua berakhir untuk Serena setelah melalui 9 game dengan pembagian 6-3.

How did it happen? How? Did I not watch the match? I did. But how??? Di sini gw mengagumi mental juaranya Serena. Bukan hanya dia bisa meraih set kedua dan memperpanjang nyawanya di pertandingan ini, but she actually owned the second set. That's amazing.

Setelah dua set yang berakhir dengan cepat, set ketiga sebagai penentu akan segera dimulai. Di sela-sela break gw minta temen-temen gw untuk menandatangani bola yang masih murni tak tergores tanda tangan pemain. Ga ada pemain, temen pun jadi.

Pada set ketiga ini pertandingan terasa kompetitif dibanding dua set sebelumnya yang terasa berat sebelah. Sementara Serena masih menunggangi momentum yang ia bentuk di set sebelumnya, di seberang lapangan Caroline pun ngga mau kalah dan berhasil mempertahankan serve nya. Kedudukan imbang, 1 game untuk tiap pemain.

Di game ketiga, back to back Caroline di-ace sama Serena. Ini dia nih. Bomnya Serena. Her biggest weapon. The serve. Do you know how many aces she's collected so far in the match? Nine. Sometimes when I watch tennis matches, and I find a certain player more dominant than the opponent--be it by serving aces, or pulling the opponent left and right, left and right--it almost feels like bullying is taking place on court. But it's not. It's actually a fair play. So no complaints here about the dominance. Though it does make me sympathize with the opponent.

Pertandingan pun berlanjut dengan Serena dan Caroline saling bertukar poin dan kejar-kejaran angka. Temen-temen gw yang kebanyakan mendukung Serena pada tegang. Lain halnya dengan gw yang menikmati pertandingan ini seutuhnya. Do you know how great it feels to be watching a good match without the stress of being invested in one of the players? It's awesome. Neither Caroline nor Serena is my fave. This is how a tennis match should be watched: not your fave. Heheh... Just kidding.

Meskipun begitu, sebenernya gw punya jagoan di pertandingan ini. Gw menaruh harapan pada Caroline untuk menang, karena dia bagaikan representatif dari pemain-pemain yang tidak berbadan besar dan/atau tidak bermodalkan pukulan besar. Gw termasuk di dalamnya. Badan gw ngga besar. Pukulan gw? Well, let's just say in terms of power it can still be improved. Jadi kalo Caroline sampe menang, itu bagaikan semburan harapan untuk kita-kita yang satu spesies bahwa kita masih punya kemungkinan untuk bersinar dalam modern tennis yang telah didikte oleh power.

Sementara itu, pertandingan di bawah sana berlangsung sengit. Antara Serena dan Caroline, dua-duanya ngga ada yang membiarkan lawannya memenangkan poin dengan mudah, bola dikejar-kejar sampe ke ujung lapangan. Keduanya pun ngga segan-segan menampakkan insting menyerang. Suatu ketika, setelah sebuah rally intense yang akhirnya dimenangkan oleh Serena, mereka berdua menjerit. Yang satu karena lega, yang satu karena frustrasi. Peak women's tennis.

Kemudian pada poin berikutnya, di saat Serena bersiap melakukan serve, tiba-tiba terdengar suara lantang seorang pria. 


"You are beautiful, Serena!"

The fuck? Apparently it's the guy sitting in front of us. This guy sits with his two female friends. I call them the high group. Because to me, they seem high as a kite. They can't stop laughing and giggling at very random moments for nothing in particular. It's pretty fucking annoying 'cause they giggle in the middle of points where most people are quiet. At this point I feel like telling them to shut up. Shut up shut up shut up. Slap slap slap them left and right.

Anyway, except for the high-and-giggle group, the crowd in this match is actually the best. "A" for audience participation. They are very enthusiastic. Well, we are. I am one of those appreciative crowd.


Back to the match itself, skor saat ini adalah 4-4, saling pepet dan masing-masing berhasil mempertahankan serve mereka. Sampai kemudian, Caroline sukses nge-break serve nya Serena. 4-5. Caroline mencapai game kelima duluan, dan kalo dia bisa memenangkan game berikutnya, berarti dia yang menang. 

Sayangnya keunggulan Caroline cuma bertahan sebentar karena Serena nge-break balik dan menyamakan kedudukan menjadi 5-5. 

Di game berikutnya, Caroline berhasil mendapatkan break point untuk mencapai game keenam. Tapi eksekusinya dilakukan dengan terlalu bernafsu. Bola nyangkut di net. Deuce. Di saat-saat kritis seperti ini, Serena ngeluarin her biggest weapon to get herself out of trouble: the serve. Caroline overhitting the return--poin untuk Serena. Caroline gagal melakukan return--poin untuk Serena. Caroline mengembalikan dengan lemah--hantam--poin untuk Serena. Tau-tau Serena sampe di game keenam duluan.

Tiba giliran Caroline untuk melakukan serve. Kali ini dia harus bertahan, karena jika Serena memenangkan game ini, Serena lah yang akan keluar sebagai juara. 


Tegang, tegang... Bisa kah Caroline melakukannya? Setiap kali poin dimenangkan oleh Caroline, gw dan para suporter lain bersorak-sorai menyemangati. Kami sadar betapa pentingnya game ini.

40-15... Caroline memimpin dan sedikit lagi memenangkan game ini. Tapi Serena ngga tinggal diam. Perlahan-lahan dia mengejar poin hingga akhirnya menyamakan kedudukan. Lebih buruk lagi, akhirnya sampai juga Serena pada yang namanya... match point.

The crowd goes wild. Satu poin lagi, dan itu akan menentukan apakah Serena menang atau Caroline bertahan. This is so tense...


Caroline melakukan serve. Dibalikin sama Serena. Caroline memukul forehand dengan meyakinkan. Masih dibalikin Serena. Caroline menyusup ke depan net dan menyerang sisi lapangan yang terbuka. Serena tetap bertahan. Caroline yang nge-camp di depan net pun melakukan volley dengan apik. Tapi yang namanya Serena--legend--defense skill nya juga ngga sembarangan. Dia masih bisa menjangkau volley tersebut. At this point mereka berdua udah berada di depan net, dan yang terjadi berikutnya adalah some crazy, intense net exchange. 

Dengan sentuhannya, Caroline meluncurkan drop shot rendah yang sangat meyakinkan. Tapi OH! Lagi-lagi Serena dapat mengejarnya. Kali ini Serena berniat menyerang dan memvoli bola ke open court, jauh dari jangkauan Caroline. Tidaaaakkk.... Tapi Caroline bereaksi cepat dan merentangkan tangannya lebar-lebar dan... Dapat! Dengan putaway volley yang dilayangkan Caroline ke sisi yang terbuka, Serena pun tak berkutik. Match point saved with incredible net play. Crowd is roaring. I'm so happy I instantly get up and make a lasso motion with my right hand. Whuooooooo Carolineee!!! 

How the hell did she do it? So much fierceness when your life is on the line.

No doubt, this is like the biggest and best point of the match. I rewatched this thing on Youtube and caught Big Sascha--Serena's hitting partner--giving Caroline a standing ovation. And also, a guy behind him was laughing his ass off and clapping at the greatness of this match. Super duper entertained we all were.

And so, after some back-to-back errors coming from Serena's end, the game is finally won by Caroline. 6 games each, and this means we are going to a tiebreak. 

In the tiebreak, Caroline starts convincingly by leading the game 4-1, thanks partly to Serena's errors. But then, Serena rises again and levels the situation at 4-4. Around this point, Serena starts throwing bombs that is her serve--one of them even passed the 200 km/h mark. Holy fuck...

Slowly but surely, Serena begins to dictate the game, and before we know it, another opportunity to close out the match presents itself at 6-4. Another match point for Caroline to save. The crowd breaks in excitement.

Caroline serves to stay in the match. She follows it up to the net. Being fierce and aggressive seems to be her strategy on match points. Well it pays off. A nice touch at the net breaks Serena's timing and she fails to get the ball over to the other side. Match point number 2: saved. Awesome. The longer the match, the better for us the paying bunch.

Anyway, saving a match point doesn't mean Caroline has escaped a tricky situation. Now that the score is 6-5, t
he rule dictates that it's still Serena's opportunity to close out the match on match point number 3.

This time, Caroline doesn't need to do the saving because an unforced error is coming from Serena. 6-6. The Singapore Indoor Stadium is roaring wild. If you watch this match on Youtube, you will hear pertty distinctively someone shouting "Whoo whoo whoo whoo!!!" Me and my friend supported Caroline and we were pretty vocal about it. So I think it could be us. Or not. Who could tell which was which when all the cheering and yelling blended into one ecstatic atmosphere.

Moving on to the next point, it is now on Serena's serve. She aces down the T, but it grazes the net. Another try. This time she serves wide. And... Ace at a critical moment. Damn. Serena knows how to utilize her weapon in the most effective way. Now it's 7-6 for Serena--match point number 4.

At last, on match point number 4, Caroline fails to defend and hits the ball outside the line. Setelah 2 jam 15 menit, Serena lah yang keluar sebagai pemenang.

Fuuuuck... I am heartbroken. Once again, power prevails in modern tennis. 

Serena dan Caroline pun bertemu di net dan berpelukan hangat. Puk puk Caroline. She plays really well the whole tournament. Unlike Serena who lost once in the round robin, Caroline actually won them all. Gutted that her journey has to end here.

Usai pertandingan, gw sama temen-temen berjalan keluar venue sambil membahas pertandingan barusan. Salah satu temen gw bilang kalo Serena otaknya main banget; dia mainnya pinter. Sampe saat ini gw masih ngga ngerti apa yang dimaksud dengan statement tersebut. Legend as she may be, I don't think Serena is the definition of smart tennis. Tapi itu mungkin gw aja yang pemahamannya belom sampe.

Anyway, kami menuju area Fan Zone untuk berfoto-foto sejenak sebelum gw kembali ke Jakarta, meninggalkan teman-teman yang masih stay di Singapore sampe final.
 

This is us, members of MHI Tennis who came to watch WTA Finals
(Photo by Eko Retnani)


After that, it's bye-bye Singapore, I'm off to Jakarta feeling thoroughly satisfied. 

Gotta love WTA and Singapore for making my first tennis event a fabulous experience.


(Photo by Eko Retnani)



Extra: Some pics from the event



Waiting for semifinal match between Serena vs Caroline
 (Photo by Eko Retnani)



Post-match group photo
 (Photo by Agnis Virtinova)




I'm having a ball




A collection of my friends' autographs




And the best signing of all--by yours truly

Wednesday, December 17, 2014

Is Alex Vause a Badass? No, She Ain't.

Alex Vause. You know her from the hit series Orange is the New Black as an ex-international drug smuggler slash ex-girlfriend of the show's lead character, Piper Chapman. If you don't know her, chances are you haven't seen the show yet, and you're missing out! Unless you are properly underage. In that case, you're better off steering clear of the show.

A lot of people assume Alex Vause is a badass just by looking at her exterior self, judging by her cool-as-cucumber attitude, unnecessarily excessive tattoos, and dead pan flat tone that's coming out of her mouth every time she talks.

"This girl is cool!"

"She a badass."

Alas, a lot of people are wrong. That's only the surface, and many of them are fooled by superficial stuffs such as tattoos, indifferent tone, cool attitude, and her intimidating height.

The truth is, Alex Vause is a Hello Kitty inside. And all those tattoos and indifferent attitude is just a cover to hide her tenderness and a means to mask her vulnerability.

How can people not see it? Thus far, Alex Vause survives in prison because she applies the law of the lone wolf: "live and let live". She minds her own business, and she does not meddle in people's affair. At the same time, nobody dares to disturb her, because from the outside, she looks like she possesses some kind of air of badassery and mystery that you decide you don't wanna mess with her.

However, it has yet to be proven whether Alex Vause can actually survive under critical situations the way her ex Chapman did. Because, as we can see, Alex Vause is not physically aggressive like Chapman is, neither is she the counter-puncher scheming type the way Galina "Red" Rezhnikov is. She just accepts the situations and succumbs.

"My mattress is gone!" *Does nothing*

"My glasses are broken! It's Dogget!" *Does nothing*

"Red is starving me out!" *Massages Red's feet for 45 minutes*

That's not how a badass would've reacted. A badass would've gone and jumped on the enemy like a jaguar mauling on a reindeer.

So, she does look like she's a badass, but is she really?

I bet if they focus more on Alex Vause's character, we'll see that she's the type of girl who looks like she's badass enough to handle situations by herself, only to turn out to be the damsel in distress who needs a hero to come and rescue her. And in that moment you will start to doubt her badassery. Me? Sorry, I've seen it coming from miles and miles away.

Monday, November 10, 2014

It's Probably Good If Your Kid Cries

I've seen a lot of tennis matches live where kids play and they end up crying when they lose. Heard it too from my coaches' stories. I used to think, "Oh they're just kids being kids. You know, crybabies."

Of course. How could I not think that way? These kids that went and played at a tournament and cried when they lost ranged from age 8 to 12; you could probably find the 6 year-olds as well in their midst. And if kids around this age cry, my understanding is because they are kids--kids could cry because of every little thing. Like falling, for example. They cry not because of pain but because of the shock or the embarrassment. Or they cry when their mom deny their request for a Barbie doll.

So, when I saw them crying as they swallowed their defeat from the opponent, my mind went to this reasoning: they cry because they're kids. But I think I might've been wrong about it.

Recently I read Rafael Nadal's autobiography, titled very simply as "Rafa", and found out he used to cry too as a little boy when he suffered a defeat. One day he was crying so bad after losing a match, and in the book it was explained why. He cried because it was painful to lose. It was really painful for him to lose. And he just didn't like that feeling and that he didn't wanna feel it ever again. That's why he cried.

It never occurred to me that kids could cry because for them it really is an emotional pain when they lose. And I think these cases happen to the competitive bunch--these super competitive folks have difficulty accepting defeat.

Such perspective never crossed my mind because I have never cried after losing a match or a competition, even at the youngest of age. I remember my parents signed me up to a drawing competition, or a math competition, or a karate tournament and I lost. But I didn't cry. Never.

As I grew older, I participated along with my teammates on sports tournaments such as basketball or futsal, and we sometimes lost too, but I never cried. I never cried not because at this point I had grown older, but because I knew right away, and probably have always known, that my opponent at the time was better than me. That's why they won and I, or we, lost. Simple as that.

When I lost, I straight out admit that my opponent had a better game than me. And I'm talking about their experience, mileage, hard work, practice, desire--not talent--that surpassed mine which translated into them winning. So what's the reason to cry?

Things would be different though, if I ever feel I've given my all, gone for broke, and I wanted the win so bad but still couldn't get it. That's when I'll cry probably.

But that's how I, a person with laid-back personality and a fair view in life, process things. Obviously, these kids that cry after losses process it differently due to their competitive nature. And it's probably good for them--not the crying, but ultimately, the competitiveness. Why? Because, as I learn more and more about the history and characteristics of champions, I notice that these champions share one similarity: competitiveness. They just do not like losing; they probably hate it more than they love winning.

So, following this logic, if your kids cry after losses, maybe it's due to their competitive nature. And if they are competitive, congratulations, they already have one trait that the champions have.

Friday, June 6, 2014

Yang Kurang Ajar Sama Emak-emak Kena Batunya

Hari Sabtu kemaren adalah pertama kalinya gw ikut turnamen tenis semenjak gw mengenal tenis satu setengah tahun yang lalu. Gw yang amatir ini berkesempatan mencicipi turnamen karena, syukur Alhamdulillah ya, gw termasuk alumni ITB. Yang mana artinya, gw bisa join di Turnamen Tenis Ikatan Alumni ITB 2014 yang digelar untuk keluarga besar ITB.

Beberapa hari sebelum turnamen dimulai, daftar peserta udah terkumpul dan terpajang di website. Pas gw liat kompetisi gw, "Wih... Emak-emak." 50 tahun, 40-an tahun. Cuma ada sedikit pesertanya. Bisa lah ya ini bawa pulang trofi sama duit. Gua udah ngebayangin tuh, my first-ever tennis trophy. How am I gonna carry it back home? Cool cool cool.

Sehari sebelum turnamen dimulai, pergilah gw ke Bandung, di mana turnamen ini diselenggarakan. Setelah bermalam sejenak di Lembang, keesokan harinya gw turun ke Bandung naik ojek. Sampe venue, keren. Lapangannya banyak. Orang-orang pada latihan. Masuk ke gedung utama yang terkoneksi dengan lapangan indoor, gw lalu melakukan registrasi ulang. Gw dikasih kaos buat main, ID card, dan kupon-kupon buat makan siang. I don't really care about anything else except the ID card. Wih... Keren. Kalo lo sering nonton pertandingan tenis di TV, lo pasti tau player-player selalu bawa ID card nya ke dalem arena. Entah dikalungin, entah diiket ke tasnya. Gw? Gw iket ID card ke celana gw. Terus gw masukin ke kantong di pantat gw. Yeah... So this is how it feels. Emak gua bilang gua lagi demam tenis. Yes, let's call it that.

Setelah pembukaan, stretching-stretching dan lari-lari sejenak, ngga lama kemudian tiba giliran gw dipanggil untuk main. Ini pertandingan double. Partner gw ibu-ibu 40-an tahun, ngga taunya beliau orang tua dari adek kelas gw pas kuliah. Sedangkan lawan kami ternyata pasangan ibu dan anak.


Pertandingan pun dimulai. Observasi sejenak... Partner gw ternyata cukup jago. Dia main di depan net dan volley nya bagus. Lawan gw, yang ibu-ibu, skill nya ngga mengancam. Tapi anaknya, oh mon Dieu, the daughter is a big hitter. Her smash is powerful. Her forehand stroke? It's modern tennis. Cukup yakin dia udah main tenis bertahun-tahun, mungkin bahkan dari kecil. Mungkin juga dia anak sekolah tenis kayak gw. Dan dia masih muda, palingan remaja atau awal 20-an. Pas dia serve, kecenderungannya dia akan kasih ke backhand gw, kecenderungannya dia akan serve out wide. So then I take the initiative to try and cover that area, leaving a huge proportion of my forehand side unguarded. Noticing that, she attacks my forehand side by serving down the "T". Oh my God, she is that good. Dia mau serve ke mana, di situlah bolanya akan melesat dan mendarat dengan deras.

Shit. By acknowledging this fact alone, I am now under pressure. Wha wha wha...? I thought my opponents are supposed to be older women. Kenapa kenyataannya anak muda yang lebih jago dari gw? I fold. So much for that trophy and glory. Yang kemudian terjadi adalah gw ngga bisa hold serve gw. Some double faults painted on the court, and I'm the artist. Pertandingan berakhir 3-6.

Kalo kata ibu-ibu yang nonton pertandingan gw dari kursi penonton, dia juga peserta by the way, dia bilang gw mainnya grogi. So it is that obvious from miles away. My first-ever real tennis match, and I got tight the second I knew it wasn't gonna be a cakewalk.

Tapi turnamen ini belom berakhir buat gw dan partner gw, karena masih ada satu pertandingan lagi melawan pasangan lain. Kali ini melawan ibu-ibu dan... ibu-ibu. Oke. Ngga ada lagi big hitter player. Ditambah lagi, sekarang gw merasa lebih relax, since it's not my first time anymore. Tapi ketika pertandingan dimulai, oh my God, am I in for another surprise. Trenyata ibu-ibu mainnya slice. Sedangkan gw biasa diajarin untuk main dengan powerful stroke. Semua bola yang gw layangkan ke seberang lapangan dengan ground stroke, dibalikin dengan slice. Gw ngga terbiasa dengan gaya permainan ini. I don't know what to do... Before I know it, the match is over. Kali ini hasilnya lebih ngenes, 1-6.

Tiba saatnya jabat tangan dengan lawan. Yang berarti, tiba saatnya untuk on-court drama berlangsung. Salah satu lawan gw yang jago, yang kerjaannya nge-slice melulu, menjabat tangan gw lamaaa banget ngga lepas-lepas, shake shake shake, sambil bilang, "Sorry yaa..."

Okay, first of all, handshake is too long. It's like, the longer the handshake, the more pronounced the bitter taste of losing. I wanna be rid of it. Second of all, seriously, who on this planet earth says sorry after legitimately annihilating their opponent? You don't say sorry to your losing opponent. You just don't apologize, even if it's a sincere empathy. Because to apologize means to pity.
 

Berikutnya, gw dan partner gw jabat tangan dengan ibu-ibu yang satunya lagi. Dia bilang begini, "Makasih yaa udah dilatih." How dare youuu... Belagu banget, padahal yang jago juga bukan dia, tapi partner nya. Emang ibu yang satu ini agak obnoxious orangnya. Pernah suatu ketika bolanya jelas-jelas out, dan dia merentangkan tangannya lebar-lebar, mengisyaratkan bola tersebut out. OKAY. WE KNOW. Dan lagian kan ada wasit yang akan ngumumin kalo emang bolanya out. So really it's unnecessary thank you.

Pada akhirnya gw dan partner gw pulang dengan tangan kosong. Gw minta maaf sama partner gw karena malah membebani dia dengan segala kehijauan gw dalam menghadapi tipe permainan ibu-ibu. Ugh... How does it feel, kalah sama ibu-ibu setelah ngerasa overconfident cuma karena ngerasa lebih muda dan fit?

So it's true once again. Tennis teaches you about humility. In tennis, I've been beaten by kids multiple times, received on-court spanking by adults countless of times, and now, I got my ass handed to me by older women. You see, our age doesn't matter much. It's about skill and experience.