Friday, June 6, 2014

Yang Kurang Ajar Sama Emak-emak Kena Batunya

Hari Sabtu kemaren adalah pertama kalinya gw ikut turnamen tenis semenjak gw mengenal tenis satu setengah tahun yang lalu. Gw yang amatir ini berkesempatan mencicipi turnamen karena, syukur Alhamdulillah ya, gw termasuk alumni ITB. Yang mana artinya, gw bisa join di Turnamen Tenis Ikatan Alumni ITB 2014 yang digelar untuk keluarga besar ITB.

Beberapa hari sebelum turnamen dimulai, daftar peserta udah terkumpul dan terpajang di website. Pas gw liat kompetisi gw, "Wih... Emak-emak." 50 tahun, 40-an tahun. Cuma ada sedikit pesertanya. Bisa lah ya ini bawa pulang trofi sama duit. Gua udah ngebayangin tuh, my first-ever tennis trophy. How am I gonna carry it back home? Cool cool cool.

Sehari sebelum turnamen dimulai, pergilah gw ke Bandung, di mana turnamen ini diselenggarakan. Setelah bermalam sejenak di Lembang, keesokan harinya gw turun ke Bandung naik ojek. Sampe venue, keren. Lapangannya banyak. Orang-orang pada latihan. Masuk ke gedung utama yang terkoneksi dengan lapangan indoor, gw lalu melakukan registrasi ulang. Gw dikasih kaos buat main, ID card, dan kupon-kupon buat makan siang. I don't really care about anything else except the ID card. Wih... Keren. Kalo lo sering nonton pertandingan tenis di TV, lo pasti tau player-player selalu bawa ID card nya ke dalem arena. Entah dikalungin, entah diiket ke tasnya. Gw? Gw iket ID card ke celana gw. Terus gw masukin ke kantong di pantat gw. Yeah... So this is how it feels. Emak gua bilang gua lagi demam tenis. Yes, let's call it that.

Setelah pembukaan, stretching-stretching dan lari-lari sejenak, ngga lama kemudian tiba giliran gw dipanggil untuk main. Ini pertandingan double. Partner gw ibu-ibu 40-an tahun, ngga taunya beliau orang tua dari adek kelas gw pas kuliah. Sedangkan lawan kami ternyata pasangan ibu dan anak.


Pertandingan pun dimulai. Observasi sejenak... Partner gw ternyata cukup jago. Dia main di depan net dan volley nya bagus. Lawan gw, yang ibu-ibu, skill nya ngga mengancam. Tapi anaknya, oh mon Dieu, the daughter is a big hitter. Her smash is powerful. Her forehand stroke? It's modern tennis. Cukup yakin dia udah main tenis bertahun-tahun, mungkin bahkan dari kecil. Mungkin juga dia anak sekolah tenis kayak gw. Dan dia masih muda, palingan remaja atau awal 20-an. Pas dia serve, kecenderungannya dia akan kasih ke backhand gw, kecenderungannya dia akan serve out wide. So then I take the initiative to try and cover that area, leaving a huge proportion of my forehand side unguarded. Noticing that, she attacks my forehand side by serving down the "T". Oh my God, she is that good. Dia mau serve ke mana, di situlah bolanya akan melesat dan mendarat dengan deras.

Shit. By acknowledging this fact alone, I am now under pressure. Wha wha wha...? I thought my opponents are supposed to be older women. Kenapa kenyataannya anak muda yang lebih jago dari gw? I fold. So much for that trophy and glory. Yang kemudian terjadi adalah gw ngga bisa hold serve gw. Some double faults painted on the court, and I'm the artist. Pertandingan berakhir 3-6.

Kalo kata ibu-ibu yang nonton pertandingan gw dari kursi penonton, dia juga peserta by the way, dia bilang gw mainnya grogi. So it is that obvious from miles away. My first-ever real tennis match, and I got tight the second I knew it wasn't gonna be a cakewalk.

Tapi turnamen ini belom berakhir buat gw dan partner gw, karena masih ada satu pertandingan lagi melawan pasangan lain. Kali ini melawan ibu-ibu dan... ibu-ibu. Oke. Ngga ada lagi big hitter player. Ditambah lagi, sekarang gw merasa lebih relax, since it's not my first time anymore. Tapi ketika pertandingan dimulai, oh my God, am I in for another surprise. Trenyata ibu-ibu mainnya slice. Sedangkan gw biasa diajarin untuk main dengan powerful stroke. Semua bola yang gw layangkan ke seberang lapangan dengan ground stroke, dibalikin dengan slice. Gw ngga terbiasa dengan gaya permainan ini. I don't know what to do... Before I know it, the match is over. Kali ini hasilnya lebih ngenes, 1-6.

Tiba saatnya jabat tangan dengan lawan. Yang berarti, tiba saatnya untuk on-court drama berlangsung. Salah satu lawan gw yang jago, yang kerjaannya nge-slice melulu, menjabat tangan gw lamaaa banget ngga lepas-lepas, shake shake shake, sambil bilang, "Sorry yaa..."

Okay, first of all, handshake is too long. It's like, the longer the handshake, the more pronounced the bitter taste of losing. I wanna be rid of it. Second of all, seriously, who on this planet earth says sorry after legitimately annihilating their opponent? You don't say sorry to your losing opponent. You just don't apologize, even if it's a sincere empathy. Because to apologize means to pity.
 

Berikutnya, gw dan partner gw jabat tangan dengan ibu-ibu yang satunya lagi. Dia bilang begini, "Makasih yaa udah dilatih." How dare youuu... Belagu banget, padahal yang jago juga bukan dia, tapi partner nya. Emang ibu yang satu ini agak obnoxious orangnya. Pernah suatu ketika bolanya jelas-jelas out, dan dia merentangkan tangannya lebar-lebar, mengisyaratkan bola tersebut out. OKAY. WE KNOW. Dan lagian kan ada wasit yang akan ngumumin kalo emang bolanya out. So really it's unnecessary thank you.

Pada akhirnya gw dan partner gw pulang dengan tangan kosong. Gw minta maaf sama partner gw karena malah membebani dia dengan segala kehijauan gw dalam menghadapi tipe permainan ibu-ibu. Ugh... How does it feel, kalah sama ibu-ibu setelah ngerasa overconfident cuma karena ngerasa lebih muda dan fit?

So it's true once again. Tennis teaches you about humility. In tennis, I've been beaten by kids multiple times, received on-court spanking by adults countless of times, and now, I got my ass handed to me by older women. You see, our age doesn't matter much. It's about skill and experience.