Sunday, August 14, 2016

Thighs Full of Promise

Back in 2013, when I had just started to play tennis, I saw a picture of a young girl on my Twitter timeline--a tennis player. That picture left a mark on me because of how glorious her thighs were. There are hundreds of pairs of thighs in the WTA--all of them being an athlete's thighs--but this one caught my attention. I don't know how to describe it, her thighs were simply on point. When you see something on point, you just know it. 

Because of her thighs--and her fitness in general--I wrote myself a mental note: This is where you want to be, fitness wise. And so, I crowned this girl my fitness role model. That's how inspiring her thighs were.


However, I found it a little bit weird that I had this girl as my inspiration, considering her achievement back then. Fit as she may be, she had not won anything significant in the professional circuit. She had 0 slams, 0 medals, and 0 weeks at number one. Heck, not even her first WTA title she had won.

3 years later though, she stunned the world by winning the Olympic Gold medal in Rio. Her name is Monica Puig and she has just won the prestigious Singles tennis, an achievement shared by legends such as Venus, Graf, and Serena. 

Was I missing something there? Could it be that her glorious thighs were actually a sign of greatness that I dismissed? Her thighs being a reflection of her fitness, and her fitness an asset that promises greatness?

Perhaps.

To quote George Anders in The Rare Find, "If bells went off every time someone amazing walked into sight, it wouldn't be hard at all to recognize the first stirrings of greatness. The great art lies in being open-minded enough to see faint possibilities at first, and then being methodical enough to keep coming back for more impressions, until the full picture is clear."

Never again shall I disregard any signs of greatness, no matter how small, trivial, or unnoticeable it is. 'Cause it might just be gold.

Friday, August 5, 2016

Risiko Tanggung Sendiri

Tadi siang pas gw lagi wudhu di masjidnya Mall Kota Kasablanka, gw nemu jam tangan orang yang ketinggalan. Gw nemu jam itu pas gw berdiri di atas pembatasnya air keran, seperti yang sering gw lakukan untuk memudahkan bersihin kaki. Gerakan yang tidak anggun, gw akui, dan cewe-cewe di sebelah gw ngga melakukan itu, but exactly because of that gw nemu harta karun yang mereka ngga liat.

Hal ini bikin gw berpikir, ketika lo melihat dengan cara yang berbeda, lo akan menemukan hal yang ngga dilihat oleh kebanyakan orang. (This means opportunity!)

Anyway, soal nasib jam tangan itu sendiri gw ngga tau gimana sekarang, udah gw kasiin ke penjaga masjid dan gw bilang "Ni tadi ada yang jamnya ketinggalan."

Lantas gw kepikiran, hey, hal ini bisa kita jadiin social experiment!

Gimana kalo kita bikin skenario di mana ceritanya lo bilang ke penjaga kalo ada jam tangan atau hape atau barang berharga yang ketinggalan? Kemudian lo kasih barang tersebut ke penjaga. Padahal sih barang yang lo kasihin adalah barang lo sendiri yang lo korbankan untuk eksperimen ini.

Langkah selanjutnya dalam eksperimen ini mengharuskan lo untuk balik ke tempat yang sama kayak satu atau dua hari kemudian. Dan casually, lo musti nanya ke penjaganya, "Mba, kemaren udah ada yang ngeklaim jam yang saya temuin?" Atau gimana bahasanya sesuai kepribadian lo.

Maka yang terjadi kemudian adalah kemungkinan-kemungkinan di bawah ini:

(Flashback)

Skenario 1

Sang pengaku: "Mba, jam tangan saya ketinggalan kemaren. Ada yang ngeliat jam tangan saya ngga ya?"

Penjaga: "Yang ini bukan, Mba?"

Sang pengaku: "Nah iya yang itu, Mba." *Gondol*

Skenario 2

*Ditilep sama penjaganya. Masukin kantong.*

Skenario 3

*Krik, krik, krik...* Ngga ada yang ngaku kehilangan karena ngga ada yang bener-bener kehilangan.


(Akhir flashback)

Kemudian jika penjaganya membawa "kabar baik" dan bilang bahwa jam itu udah balik ke "pemiliknya", itu artinya kabar buruk dalam segala pengertian buat lo. Yang pertama, barang lo ngga balik, anggap aja cost untuk mewujudkan eksperimen ini. Dan yang kedua, damn! Ada yang ngaku-ngaku.

Tapi, kalo si penjaganya bilang, "Wah, belom ada yang nyariin nih, Mba. Masih saya simpen di situ," itu artinya congratulations Jakarta, kamu masih dihuni orang-orang jujur.

Lantas bagaimana exit strategy nya ketika lo mau membungkus eksperimen ini dan membawa pulang barang yang udah lo pertaruhkan?

Lo bisa minta temen lo untuk berperan jadi si "pemilik barang" dan samperin penjaganya beberapa hari kemudian. Suruh temen lo ngaku-ngaku kehilangan barang yang lo titipin. Jangan lupa kasih tau merk, tipe, dan ciri-ciri barangnya, in case si penjaga teliti sebelum memberi. Kasih tau juga yang mana penjaga yang lo titipin barang tersebut. Jika ini berhasil, eksperimen lo dapet, barang lo juga dapet.

Tapi ironisnya dengan melakukan permainan ini lo sendiri udah ngga jujur. Hahaha...